Recent Posts

Kanker Payudara pada Pria: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kanker Payudara pada Pria: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kanker payudara pada pria memang tergolong jarang terjadi dibanding pada wanita, namun memiliki keparahan yang sama sehingga patut diwaspadai! Selengkapnya ketahui gejala, penyebab, cara mengobati, pencegahan, dan lainnya di bawah ini.

kanker-payudara-pada-pria-doktersehat

Apa Itu Kanker Payudara pada Pria?

Kanker payudara pada pria adalah adalah kanker langka yang muncul dan berkembang di jaringan payudara pria. Kanker payudara dimulai saat sel-sel abnormal di payudara tumbuh di luar kendali. Kanker payudara pria paling umum pada pria yang lebih tua, meskipun terjadi pada usia berapa pun.

Sel-sel ini biasanya membentuk tumor terasa seperti benjolan ketika diraba atau dapat terlihat dengan rontgen. Tumor bisa ganas (kanker) jika sel-sel tumbuh menjadi jaringan di sekitarnya atau menyebar (bermetastasis) ke bagian yang lebih jauh dalam tubuh.

Kanker payudara bisa muncul di berbagai bagian payudara. Kebanyakan kanker payudara dimulai pada saluran yang mengalirkan susu ke puting (kanker saluran). Beberapa lainnya mulai di kelenjar yang membuat ASI (kanker lobular). Pria juga memiliki saluran dan kelenjar ini, meskipun biasanya tidak berfungsi.

  • Benjolan atau pembengkakan di areola atau di bawah puting payudara. Benjolan tidak bergerak saat ditekan, terasa kenyal atau keras, dan tidak sakit.
  • Keluar cairan dari puting.
  • Puting payudara tertarik ke dalam atau mengerut.
  • Kemerahan atau berkerak pada puting atau kulit payudara.
  • Ruam dan luka pada puting dan areola yang tidak kunjung hilang.
  • Benjolan semakin membesar seiring waktu.

Jika kanker menyebar, gejala dan ciri-ciri kanker payudara pada pria, termasuk:

  • Pembengkakan di kelenjar getah bening, di sekitar ketiak atau tulang leher.
  • Nyeri payudara.
  • Sakit tulang.
  • Terasa lelah sepanjang hari.
  • Sesak napas.
  • Kulit gatal dengan kulit dan mata menguning (jaundice).

Penting diketahui, pembesaran payudara tidak hanya menandakan gejala dan ciri-ciri kanker payudara pada pria. Kondisi ini juga mirip dengan penyakit ginekomastia yang disebabkan ketidakseimbangan hormon, obesitas, atau penggunaan obat-obatan tertentu. Oleh karenanya, penting memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Baca Juga: 7 Tanda Kanker Payudara pada Pria yang Tidak Boleh Diabaikan

Kapan Harus ke Dokter?

Gejala kanker payudara pada pria yang utama adalah benjolan di payudara. Segera ke dokter jika memiliki benjolan payudara atau gejala lain yang mengkhawatirkan.

Tingkat kelangsungan hidup dan pengobatan untuk pria pengidap kanker payudara sangat mirip dengan wanita. Diagnosis dini kanker payudara dapat memudahkan pilihan pengobatan dan biasanya mengurangi risiko kematian akibat kanker payudara.

Penyebab Kanker Payudara pada Pria

Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sel-sel di payudara pria menjadi kanker. Tetapi, kanker payudara pria terjadi ketika sel-sel payudara membelah diri tidak terkendali daripada sel sehat.

Sel-sel yang menumpuk kemudian membentuk tumor payudara yang dapat menyebar (bermetastasis) ke jaringan di sekitarnya, termasuk ke kelenjar getah bening atau ke bagian tubuh lainnya.

Faktor Risiko Kanker Payudara Pria

Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara pria, di antaranya:

  • Usia. Risiko kanker payudara pria meningkat seiring bertambahnya usia. Kanker payudara paling sering terjadi pada pria berusia di atas 60 tahun.
  • Reseptor estrogen. Sekitar 9 dari 10 kanker payudara pria memiliki reseptor estrogen pada membran sel, yang molekul estrogen berikatan dengan sel kanker. Estrogen yang mengikat sel-sel kanker menstimulasi pertumbuhan dan pembelahan sel. Terapi hormon untuk kanker prostat juga meningkatkan risiko.
  • Sindrom Klinefelter. Kondisi ini terjadi ketika bayi laki-laki dilahirkan dengan kadar estrogen yang jauh lebih tinggi daripada hormon laki-laki (androgen). Ini adalah faktor risiko utama kanker payudara pria, karena kondisi ini 20 kali lebih mungkin mengembangkan kanker payudara.
  • Riwayat keluarga. Jika memiliki anggota keluarga yang memiliki kanker payudara, kemungkinan dapat meningkatkan risiko lebih tinggi mengalami penyakit ini.
  • Mutasi gen. Kondisi ini dianggap berperan penting dalam meningkatkan risiko kanker payudara. Misalnya, mutasi gen yang dikenal sebagai mutasi BRAC2 telah ditemukan
  • Obesitas. Kelebihan berat badan atau obesitas terkait dengan peningkatan kadar estrogen dalam tubuh, yang meningkatkan risiko kanker payudara pria.
  • Penyakit hati. Kondisi tertentu seperti sirosis hati dapat mengurangi hormon pria dan peningkatan hormon wanita, sehingga meningkatkan risiko kanker payudara.
  • Penyakit atau operasi pada testis. Mengalami peradangan pada testis (orchitis) atau menjalani operasi untuk mengangkat testis (orchiectomy) dapat meningkatkan risiko kanker payudara pria.

Baca Juga: Kanker Payudara: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Diagnosis Kanker Payudara pada Pria

Langkah awal untuk mendiagnosis kanker payudara pria, biasanya dokter akan mengajukan pertanyaan tentang gejala kanker kanker pada pria dan riwayat medis pribadi dan keluarga, termasuk riwayat pengobatan seperti penggunaan estrogen atau pengobatan terapi radiasi.

Jika dicurigai memiliki kanker payudara, dokter dapat melakukan sejumlah tes tambahan berikut:

1. Pemeriksaan Fisik 

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik menggunakan ujung jarinya untuk memeriksa benjolan di payudara dan sekitarnya. Dokter dapat menentukan seberapa besar benjolan, bagaimana rasanya dan seberapa dekat benjolan dengan kulit atau otot.

2. Tes Pencitraan

Tes ini dapat menghasilkan gambar jaringan payudara yang memungkinkan dokter mengidentifikasi area payudara yang menandakan kanker. Tes pencitraan, termasuk mammografi dan ultrasonografi (USG),

3. Biopsi

Prosedur biopsi biasanya menggunakan alat jarum khusus untuk mengambil sedikit jaringan payudara, yang sebelumnya diberikan anestesi agar tidak sakit. Sampel jaringan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi sel kanker.

Cara Mengobati Kanker Payudara pada Pria

Perawatan kanker payudara pria tergantung stadium kanker dan kesehatan secara keseluruhan. Perawatannya sering kali dengan operasi dan mungkin juga dengan perawatan lainnya.

Berikut ini beberapa cara mengobati kanker payudara pria:

1. Operasi

Tujuan operasi adalah mengangkat tumor dan jaringan payudara di sekitarnya, misalnya di ketiak dan beberapa otot di bawah payudara. Beberapa jenis operasi payudara di antaranya:

  • Mastektomi. Pengangkatan semua jaringan payudara, termasuk puting dan areola.
  • Operasi konservasi payudara (breast conserving surgery). Pengangkatan hanya sebagian payudara.
  • Lumpektomi. Pengangkatan kelenjar getah bening yang terkena kanker.

2. Terapi Radiasi

Terapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X dan proton, untuk membunuh sel kanker. Terapi radiasi dapat digunakan setelah operasi untuk menghilangkan sel kanker yang tersisa di payudara, otot dada, atau ketiak.

3. Kemoterapi

Perawatan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Obat-obatan diberikan melalui suntikan di lengan dan bentuk pil, atau dengan keduanya.

Dokter mungkin menyarankan kemoterapi setelah operasi untuk membunuh sel kanker yang mungkin menyebar di sekitar payudara. Kemoterapi juga bisa menjadi salah satu pilihan bagi pria pengidap kanker payudara lanjut.

4. Terapi Hormon

Jika kanker sensitif terhadap hormon, pengidap kanker payudara dapat disarankan terapi hormon. Terapi ini biasanya menggunakan obat tamoxifen. Obat terapi hormon lainnya yang digunakan untuk wanita pengidap kanker payudara belum terbukti efektif untuk pria.

5. Terapi Target

Terapi yang ditargetkan adalah pengobatan kanker yang khusus menargetkan pada sel-sel kanker menggunakan obat untuk menghambat sinyal kimia pada tahap sel, tingkat pertumbuhan dan pembelahan sel kanker.

Komplikasi Kanker Payudara pada Pria

Komplikasi yang terjadi biasanya muncul akibat efek samping dari pengobatan, misalnya operasi. Mastektomi adalah salah satu prosedur operasi yang menimbulkan efek samping berikut:

  • Rasa sakit dan ketidaknyamanan selama 1 sampai 2 minggu.
  • Mati rasa atau kesemutan di sekitar bekas luka dan lengan atas. Kondisi ini akan hilang beberapa minggu atau bulan, namun terkadang permanen.
  • Infeksi luka, kemerahan, pembengkakan, kehangatan, atau timbulnya luka.
  • Pembengkakan yang menyakitkan di lengan (lymphoedema) yang mungkin permanen, tetapi dapat diobati.

Cara Mencegah Kanker Payudara pada Pria

Mengingat penyebab kanker payudara payudara pria tidak diketahui secara pasti, sehingga tidak ada cara yang dapat mencegahnya. Tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko kanker payudara.

Berikut beberapa cara mencegah kanker payudara pria:

  • Menjaga berat badan sehat. Kelebihan berat badan atau obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, yang mengakibatkan pria lebih mungkin terkena kanker payudara. Jika obesitas, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi tentang rencana pola makan sehat dan olahraga.
  • Rajin berolahraga. Jarang beraktivitas fisik dapat mengubah kadar hormon, yang membuat pria lebih rentan terhadap kanker. Oleh karenanya, olahragalah setiap minggu secara rutin.
  • Hindari atau batasi alkohol. Minum alkohol terlalu banyak secara rutin terkait dengan peningkatan risiko kanker payudara wanita. Meskipun belum diketahui pasti dampaknya bagi pria, sebaiknya kurangi atau bahkan hindari sama sekali sebagai salah satu cara mencegah kanker payudara pada pria.
  • Rajin periksa ke dokter. Jika memiliki salah satu keluarga yang mengidap kanker payudara, sebaiknya rajin memeriksakan ke dokter. Meski tidak dapat dicegah, namun dapat mendeteksi kanker secara dini sehingga memudahkan pengobatannya.

 

  1. Anonim. 2018. About Breast Cancer in Men. https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer-in-men/about.html. (Diakses pada 7 Juli 2020)
  2. Anonim. 2020. Breast cancer in men. https://www.nhs.uk/conditions/breast-cancer-in-men/. (Diakses pada 7 Juli 2020)
  3. Kraft, Sy. 2019. What’s to know about male breast cancer?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/179457#outlook. (Diakses pada 7 Juli 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Male Breast Cancer. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/male-breast-cancer/symptoms-causes/syc-20374740. (Diakses pada 7 Juli 2020)
  5. Watson, Stephanie. 2017. Male Breast Cancer: Symptoms to Watch For, Risk Factors, and More. https://www.healthline.com/health/breast-cancer/male-breast-cancer-symptoms. (Diakses pada 7 Juli 2020)

Itulah tadi informasi mengenai Kanker Payudara pada Pria: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Selasa, 07 Juli 2020

Pendarahan Pascamelahirkan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Pendarahan Pascamelahirkan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Pendarahan pascamelahirkan adalah kondisi yang bisa dialami oleh wanita yang melahirkan normal melalui vagina ataupun yang melahirkan dengan operasi caesar. Pendarahan pascapersalinan dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang parah. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan organ tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup sehingga bisa menyebabkan kematian. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

pendarahan-pascamelahirkan-doktersehat

Apa Itu Pendarahan Pascamelahirkan?

Pada dasarnya kehilangan darah setelah melahirkan adalah sesuatu yang normal. Jika seorang wanita melahirkan normal, biasanya akan kehilangan darah sekitar 500 mililiter, sedangkan jika melakukan operasi caesar tubuh wanita biasanya akan kehilangan 800 â€" 1.000 mililiter. Pendarahan pascamelahirkan yang perlu diwaspadai jika Anda kehilangan lebih banyak darah dari yang seharusnya.

Pendarahan pascapersalinan yang tidak berhenti dari hari ke hari disertai pandangan kabur, kedinginan, atau merasa lemah adalah kondisi yang harus diwaspadai.

Penyebab Pendarahan Pascamelahirkan

Setelah bayi dilahirkan, rahim biasanya berkontraksi dan mendorong keluar plasenta. Proses kontraksi ini membantu menekan pembuluh darah tempat plasenta menempel. Jika rahim tidak berkontraksi cukup kuat, pembuluh darah ini bisa lepas sehingga menjadi penyebab paling umum pendarahan pascapersalinan.

Berikut adalah beberapa kondisi lain yang bisa menyebabkan pendarahan pascamelahirkan, antara lain:

  • Leher rahim atau jaringan vagina robek
  • Pembuluh darah di rahim robek
  • Mengalami hematoma
  • Gangguan pembekuan darah
  • Masalah plasenta
  • Ruptur uteri
  • Pembalikan rahim
  • Memiliki fibroid rahim

Kondisi Selama Persalinan

Selain beberapa penyebab seperti di atas, pendarahan pascamelahirkan juga bisa disebabkan oleh:

  • Persalinan caesar
  • Mendapatkan anestesi umum. Ini adalah obat yang membuat Anda tertidur sehingga tidak merasakan sakit selama operasi. Jika tidak menjalani operasi caesar darurat, Anda mungkin memerlukan anestesi umum
  • Mengonsumsi obat untuk menginduksi persalinan. Obat yang disebut Pitocin berguna untuk menginduksi persalinan. Pitocin adalah bentuk oksitosin buatan manusia, hormon yang dibuat agar tubuh memulai kontraksi
  • Menjalani persalinan cepat atau berada dalam persalinan dalam waktu yang lama membuat Anda berisiko untuk mengalami pendarahan pascapersalinan

Faktor Risiko

Beberapa wanita memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pendarahan pascamelahirkan. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang menyebabkan kondisi tersebut, antara lain:

  • Memiliki solusio plasenta
  • Mengalami plasenta previa
  • Kelebihan air ketuban
  • Kehamilan lebih dari satu janin
  • Memiliki tekanan darah tinggi saat hamil
  • Sudah banyak menjalani proses persalinan
  • Mengalami infeksi
  • Kegemukan
  • Melahirkan dengan forceps atau melahirkan vakum
  • Etnik Asia atau Hispanik

Jika Anda memiliki salah satu dari faktor-faktor risiko ini, dokter mungkinan akan mengambil tindakan pencegahan tambahan untuk mencegah pendarahan dan mengamati Anda lebih intens dalam 24 hingga 48 jam setelah melahirkan.

Risiko pendarahan pascamelahirkan tertinggi  dalam 24 jam pertama setelah kelahiran disebut primary postpartum hemorrhage. Sementara pendarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran hal itu disebut secondary hemorrhage.

Gejala Pendarahan Pascamelahirkan

Gejala pendarahan pascapersalinan dapat terlihat seperti beberapa kondisi kesehatan lainnya. Berikut ini adalah beberapa gejala yang paling umum, antara lain

  • Pendarahan yang tidak terkendali
  • Tekanan darah menurun
  • Peningkatan detak jantung
  • Penurunan jumlah sel darah merah
  • Jika pendarahan pascamelahirkan berasal dari hematoma, pembengkakan dan rasa sakit pada vagina atau area sekitarnya bisa terjadi

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Pendarahan pascamelahirkan adalah kondisi yang serius karena bisa menyebabkan tekanan darah mengalami penurunan. Apabila tekanan darah terlalu rendah, organ tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup sehingga bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, segera cari bantuan medis jika:

  • Pendarahan terjadi lebih dari satu pembalut selama satu jam dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti
  • Penglihatan kabur
  • Panas dingin
  • Kulit basah
  • Detak jantung yang cepat
  • Pusing
  • Kelemahan
  • Mual
  • Perasaan lemah

Diagnosis Pendarahan Pascamelahirkan

Diagnosis yang bisa dilakukan dokter adalah meninjau riwayat kesehatan  dan melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes lainnya yang mungkin disarankan dokter untuk membantu diagnosis, antara lain:

  • Mengukur denyut nadi dan tekanan darah
  • Jumlah sel darah merah
  • Faktor pembekuan dalam darah
  • Perkirakan berapa banyak darah yang hilang

Pengobatan Pendarahan Pascamelahirkan

Pada dasarnya perawatan pendarahan pascapersalinan adalah untuk menghentikan kondisi yang menyebabkan perdarahan sesegera mungkin. Beberapa perawatan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Obat atau pijatan rahim untuk merangsang kontraksi
  • Menghilangkan potongan plasenta yang tersisa di rahim
  • Pemeriksaan rahim, jaringan panggul, vagina, dan vulva untuk mencari area yang mungkin perlu diperbaiki
  • Bakri balloon atau foley catheter digunakan untuk memberi tekanan pendarahan yang terjadi di dalam rahim
  • Laparotomi, prosedur bedah dengan membuat sayatan di dinding perut mungkin diperlukan untuk menemukan penyebab pendarahan pascamelahirkan
  • Mengikat atau menyegel pembuluh darah yang berdarah. Ini dilakukan dengan menggunakan jahitan kompresi uterus, gel khusus, lem, atau coils
  • Histerektomi, prosedur bedah untuk mengangkat rahim. Pada banyak kasus, ini adalah pilihan terakhir yang diambil.

Mengganti darah yang hilang dengan segera menjadi penting dalam mengobati pendarahan pascamelahirkan. Anda mungkin akan diberikan cairan infus dan darah intravena untuk mencegah syok. Jika penyebab pendarahan berhasil diatasi, Anda bisa pulih sepenuhnya.

Komplikasi Pendarahan Pascamelahirkan

Kehilangan banyak darah dengan cepat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang parah. Jika kondisi ini tidak mendapatkan penanganan dengan cepat, hal itu bisa menyebabkan syok hingga kematian.

Pencegahan Pendarahan Pascamelahirkan

Semua wanita pasti menerima perawatan untuk membantu mencegah pendarahan pascapersalinan. Beberapa obat yang digunakan untuk mencegah perdarahan adalah misoprostol, ergometrine, carbetocin, atau kombinasi dari obat-obatan tersebut.

Sementara itu, beberapa pakar menyarankan ibu untuk mulai menyusui sesegera mungkin setelah lahir. Hal ini memungkinkan ibu untuk mengeluarkan oksitosin (natures Pitocin) untuk membantu kontraksi rahim dan mengeluarkan plasenta.

Setelah plasenta dikeluarkan, memastikan kandung kemih kosong juga dapat menghindari pendarahan pascamelahirkan.

 

  1. Anonim. Postpartum Hemorrhage
    https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=postpartum-hemorrhage-90-P02486. (Diakses pada 3 Juli 2020).
  2. Anonim. Postpartum Hemorrhage. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02486. (Diakses pada 3 Juli 2020).
  3. Anonim. POSTPARTUM HEMORRHAGE. https://www.marchofdimes.org/pregnancy/postpartum-hemorrhage.aspx#:~:text=Postpartum%20hemorrhage%20(also%20called%20PPH,to%205%20percent)%20have%20PPH. (Diakses pada 3 Juli 2020).
  4. Moldenhauer, Julie S. 2020. Postpartum Hemorrhage. https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/abnormalities-and-complications-of-labor-and-delivery/postpartum-hemorrhage. (Diakses pada 3 Juli 2020).
  5. Weiss, Robin Elise. 2019. How to Prevent Postpartum Hemorrhage. https://www.verywellfamily.com/postpartum-hemorrhage-2753097. (Diakses pada 3 Juli 2020).

Itulah tadi informasi mengenai Pendarahan Pascamelahirkan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Jumat, 03 Juli 2020

Imiquimod: Fungsi, Dosis, Efek Samping, Harga, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Imiquimod: Fungsi, Dosis, Efek Samping, Harga, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Imiquimod adalah obat untuk mengatasi pertumbuhan sejenis kanker kulit. Obat ini juga digunakan untuk mengobati kutil kelamin. Ketahui imiquimod obat apa, fungsi, dosis, aturan pakai, harga, dll.

imiquimod-doktersehat

Rangkuman Informasi Obat Imiquimod

Berikut ini adalah informasi umum obat imiquimod:

 Nama Obat Imiquimod
 Kandungan Obat Imiquimod
 Kelas Obat Dermatologis dan obat topikal antivirus
 Kategori Obat Obat resep
 Manfaat Obat
  • Mengobati kutil kelamin.
  • Mengobati kutil perianal atau kutil anus.
  • Mengobati actinic keratosis (AK), kondisi pra kanker kulit.
 Kontraindikasi Obat
  • Pasien dengan penyakit autoimun.
  • Pasien transplantasi organ.
  • Pasien dengan penyakit human papilloma virus (HPV) sebelumnya.
 Sediaan Obat Obat topikal
 Harga Obat Rp3.120.000/1 dus @12 kemasan (12×250 mg)

Harga obat imiquimod mungkin berbeda di setiap apotek. Obat ini dapat dibeli di apotek dengan resep dokter dengan merek dagang lain.

Imiquimod Obat Apa?

Imiquimod adalah obat topikal yang dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk mengatasi beberapa jenis gangguan kulit atau pertumbuhan kulit abnormal. Obat topikal ini digunakan untuk mengobati actinic keratosis (AK), yaitu pertumbuhan pra kanker kulit akibat paparan sinar matahari yang tidak sehat.

Krim ini juga digunakan untuk mengatasi kutil kelamin atau kutil anus/dubur yang terjadi di bagian luar alat kelamin. Obat Imiquimod termasuk dalam kelas obat dermatologis yang juga berperan sebagai antivirus.

Obat ini dapat membantu mengontrol gejala karsinoma sel basal superfisial yang merupakan sejenis kanker kulit. Kondisi ini umumnya terjadi pada kulit bagian leher, tangan, kaki, atau gejala seperti kutil.

Obat ini boleh digunakan untuk anak di atas usia 12 tahun. Obat ini dianggap efektif untuk mencegah pertumbuhan kondisi pra kanker kulit, namun tidak diketahui apakah dapat mencegah penularan kutil atau gangguan kulit ke orang lain.

Merek Dagang Imiquimod

Obat topikal antivirus ini dijual sebagai obat generik dengan nama krim imiquimod. Obat ini juga memiliki merek dagang lain, yaitu:

  • Aldara
  • Imiquad

Obat dermatologis ini mungkin juga dipasarkan dengan merek dagang lain yang belum tercatat dalam informasi ini. Selain itu, harga imiquimod dalam merek lain mungkin lebih mahal dari obat generik.

Fungsi Obat Imiquimod

Obat ini digunakan untuk mengatasi kondisi kulit seperti kutil kelamin dan gangguan kulit terkait pra kanker kulit. Ketahui manfaat imiquimod berikut ini:

1. Kutil Kelamin

Kutil kelamin adalah salah satu penyakit menular seksual dengan gejala rasa gatal, nyeri, ketidaknyamanan, dan sensasi terbakar pada area kelamin. Kutil kelamin disebabkan oleh strain human papillomavirus (HPV), virus yang juga menyebabkan displasia serviks dan kanker.

Pada pria, kutil kelamin muncul di area paha, di dalam atau luar anus, penis, atau skrotum. Pada wanita, biasanya kutil kelamin tumbuh di dalam atau luar vagina, di luar atau dalam anus, atau di leher rahim (serviks). Sementara krim imiquimod hanya digunakan untuk kutil kelamin di bagian luar kelamin.

2. Actinic Keratosis

Actinic keratosis adalah pertumbuhan pra kanker kulit yang terjadi akibat paparan sinar matahari. Gejala actinic keratosis adalah bercak-bercak kecil pada kulit yang umumnya terjadi di leher, kulit kepala, telinga, punggung tangan, wajah, dan bibir. Sebagian besar orang tidak menyadari tanda-tanda kanker kulit ini atau yang juga disebut dengan keratosis ini.

Kondisi ini umumnya berkembang selama bertahun-tahun dan baru muncul pada orang dengan usia di atas 40 tahun. Sementara itu, gejala actinic keratosis dapat diatasi dengan obat imiquimod agar lesi actinic keratosis tidak berkembang menjadi kanker kulit.

3. Karsinoma Sel Basal Superfisial

Karsinoma sel basal superfisial adalah jenis kanker kulit di mana jenis sel tertentu di dalam kulit memproduksi sel kulit baru saat sel lama mati. Gejala karsinoma sel basal adalah benjolan transparan pada kulit yang umumnya terjadi di kulit kepala dan leher.

Penyebab karsinoma sel basal superfisial diduga karena paparan sinar radiasi jangka panjang. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan menggunakan tabir surya dan meminimalisir paparan langsung cahaya matahari di siang hari.

Itulah berbagai fungsi obat imiquimod. Obat ini mungkin digunakan untuk indikasi atau gangguan kulit lain yang belum tercantum dalam informasi ini.

Baca Juga: Kanker Kulit: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Peringatan Obat Imiquimod

Harap perhatikan beberapa peringatan penting ini sebelum menggunakan obat topikal untuk kulit ini, sebagai berikut:

  • Beritahu dokter bila Anda memiliki riwayat alergi terhadap kandungan imiquimod atau obat Aldara.
  • Beritahu dokter bila Anda memiliki riwayat alergi obat lainnya.
  • Beritahu dokter bila Anda sedang menggunakan krim, obat topikal, perawatan kulit, atau belum sembuh dari operasi lain.
  • Beritahu dokter semua obat termasuk obat topikal lain, suplemen, vitamin, atau herbal lainnya yang sedang Anda gunakan.
  • Gunakan obat sesuai dengan dosis dan jadwal dari dokter.
  • Anda harus melakukan pemeriksaan kulit secara teratur sebelum, selama, dan sesudah menggunakan krim ini.
  • Hindari paparan sinar matahari selama menggunakan perawatan kulit dengan obat ini.
  • Gunakan tabir surya. Konsultasikan pada dokter jenis dan SPF tabir surya yang sesuai dengan kondisi Anda.
  • Segera hubungi dokter bila Anda mengalami reaksi kulit yang mengganggu setelah menggunakan krim ini.
  • Konsultasikan lagi pada dokter apakah obat ini aman digunakan pada kondisi hamil, menyusui, atau bila Anda sedang merencanakan kehamilan.
  • Obat ini hanya boleh digunakan untuk orang di atas usia 12 tahun.

Beberapa hal lain yang harus Anda hindari selama Anda menggunakan obat ini, termasuk:

  • Jangan berenang.
  • Jangan mandi atau membasuh area kulit yang baru dioleskan krim ini.
  • Jangan terpapar sinar matahari langsung.
  • Jangan menggunakan krim ini pada luka bakar terbuka atau area kulit yang belum sembuh dari operasi.
  • Jangan menggunakan krim ini di area mulut, hidung, atau mata.
  • Obat ini tidak melindungi Anda dari penyakit menular seksual lainnya.
  • Jangan menggunakan obat ini tanpa pemeriksaan kulit sebelumnya atau tanpa resep dokter.
  • Jangan berbagi obat ini dengan orang lain walau dengan indikasi yang sama.

Selain itu, konsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat kulit ini apabila Anda memiliki riwayat:

  • Penyakit autoimun.
  • Transplantasi organ.
  • Tidak digunakan untuk penyakit virus human papilloma pada manusia uretra, intravaginal, serviks, dubur, atau intra-anal.

Itulah beberapa peringatan penting sebelum dan selama Anda menggunakan obat topikal untuk gangguan kulit ini. Selebihnya, konsultasi pada dokter tentang semua hal yang harus Anda ketahui sebelum menggunakan obat ini.

Interaksi Obat Imiquimod

Interaksi obat adalah reaksi yang mungkin muncul bila Anda menggunakan lebih dari satu obat sembarangan. Reaksi tersebut dapat melemahkan atau meningkatkan kedua atau salah satu obat. Interaksi obat juga mungkin terjadi bila Anda menggunakan dua obat topikal termasuk krim atau salep secara bersamaan di area kulit yang sama.

Berikut ini kemungkinan interaksi obat imiquimod bila digunakan bersama dengan obat lain seperti:

  • Asam aminolevulinic
  • Asam aminolevulinic topikal
  • Methoxsalen
  • Metil aminolevulinat topikal
  • Verteporfin

Obat ini juga akan berinteraksi dengan penyakit eksim dan kondisi terbakar sinar matahari. Sebaiknya, tidak menggunakan dua obat atau lebih sembarangan kecuali dengan petunjuk dokter.

Baca Juga: Ciri-Ciri Kanker Kulit Berdasarkan Jenisnya

Efek Samping Imiquimod

Berikut ini beberapa efek samping imiquimod yang mungkin terjadi:

  • Batuk
  • Bersin
  • Nyeri tubuh
  • Gatal
  • Panas dingin
  • Telinga tersumbat
  • Hidung tersumbat
  • Sakit tenggorokan
  • Kulit merah
  • Ruam kulit
  • Kulit melepuh
  • Kesulitan bernapas
  • Kelelahan ekstrim

Efek samping lainnya yang mungkin terjadi namun jarang, termasuk:

  • Nyeri perut
  • Nyeri kaki, lutut, dan sendi
  • Nyeri dada
  • Suara serak
  • Gugup
  • Sulit berkemih
  • Gangguan penglihatan
  • Detak jantung tidak teratur
  • Kelenjar getah bening yang bengkak, nyeri, atau lunak di leher, ketiak, atau selangkangan

Daftar efek samping tersebut mencantumkan semua efek samping lainnya yang mungkin terjadi. Setiap orang mungkin mengalami reaksi berbeda pada setiap obat. Segera hubungi dokter bila Anda mengalami efek samping serius.

Dosis Obat Imiquimod

Dosis setiap orang berbeda-beda tergantung pada:

  • Usia
  • Jenis kelamin
  • Tingkat keparahan penyakit
  • Kondisi kesehatan saat ini
  • Reaksi tubuh pada dosis pertama

Berikut ini adalah informasi tentang dosis imiquimod:

1. Mengatasi Kutil Kelamin atau Kutil Perianal

  • Krim Imiquimod 3,75% untuk Dewasa: Oleskan tipis-tipis dan merata ke area kulit sebanyak sekali sehari. Total perawatan selama 8 minggu.
  • Krim 5% untuk Dewasa: Oleskan krim tipis-tipis secara merata 3 kali seminggu selama 16 minggu.

Apabila Anda menggunakan obat ini untuk mengatasi kutil kelamin, perhatikan beberapa hal ini, termasuk:

  • Obat ini tidak menyembuhkan kutil kelamin, namun mengontrol gejalanya.
  • Kutil kelamin baru mungkin tetap muncul selama Anda menggunakan krim kulit ini.
  • Kondom tampaknya tidak akan berfungsi dengan baik bila digunakan dalam kondisi kutil kelamin.
  • Anda mungkin menggunakan alat kontrasepsi lain selama melakukan perawatan kutil kelamin dengan krim ini.
  • Sebaiknya, tidak melakukan aktivitas seksual apapun selama kutil kelamin belum sembuh.

2. Mengatasi Karsinoma Sel Basal Superfisial

Oleskan krim 5% 5 kali seminggu sebelum tidur selama 6 minggu. Membutuhkan waktu hingga 12 minggu setelah menyelesaikan perawatan untuk menilai respon obat tersebut.

3. Actinic Keratosis

  • Sebagai 2,5% atau 3,75% Krim: Oleskan ke kulit sekali sehari setiap sebelum tidur selama 2 minggu.
  • Sebagai Krim 5%: Oleskan ke kulit 3 kali seminggu sebelum tidur selama 4 minggu. Ulangi perawatan selama 4 minggu lagi dengan interval 4 minggu.

Informasi ini tidak menggantikan resep dari dokter. Sebaiknya konsultasi dengan dokter tentang dosis imiquimod yang sesuai dengan kondisi Anda.

Cara Pakai Imiquimod

Berikut ini cara pakai krim imiquimod:

  • Ikuti sesuai dengan petunjuk penggunaan pada resep dokter.
  • Obat topikal hanya digunakan untuk pemakaian di kulit.
  • Jangan menggunakan obat topikal ini terlalu banyak atau terlalu lama karena akan meningkatkan risiko efek samping.
  • Cuci tangan sebelum mengoleskan krim ini.
  • Aplikasikan krim ini dengan tangan yang bersih dan kering.
  • Oleskan krim tipis-tipis dan merata.
  • Gunakan sebelum tidur agar obat dapat menyerap selama 8 jam.
  • Bersihkan kulit di pagi harinya.
  • Jangan tutupi kulit yang baru diolesi krim dengan perban atau plester lainnya.
  • Gunakan celana berbahan katun selama Anda mengobati kutil kelamin dengan krim ini.

Tanyakan kepada dokter atau apoteker Anda jika Anda tidak memahami instruksi ini. Gunakan obat apapun sesuai dengan resep dokter untuk memaksimalkan kinerja obat dan mengurangi risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Petunjuk Penyimpanan Imiquimod

Jangan menyimpan obat sembarangan karena akan merusak kandungan obat dan mengurangi kinerja obat. Ikuti petunjuk penyimpanan obat yang benar, sebagai berikut:

  • Jangan menyimpan obat di tempat yang panas, lembap, berair, atau terpapar matahari langsung.
  • Simpan obat-obatan di tempat yang kering dan sejuk dengan suhu 20°C-25°C.
  • Jangan menyimpan obat di dalam kulkas, dekat kompor, wastafel, atau tempat yang terlalu panas.
  • Sebaiknya simpan obat di kotak P3K khusus.
  • Bila tidak ada, simpan obat di laci atau tempat yang tertutup rapat.
  • Simpan obat pada wadah aslinya.
  • Jangan lupa tutup rapat obat topikal, obat cair, dan obat lainnya.
  • Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.
  • Jangan membuang obat sembarangan karena akan mencemari lingkungan.
  • Tanyakan apoteker Anda tentang instruksi penyimpanan obat yang lebih spesifik.

Itulah pembahasan lengkap tentang imiquimod obat apa. Manfaat imiquimod adalah untuk mengatasi beberapa gangguan kulit seperti kutil kelamin dan mencegah risiko pertumbuhan kanker kulit. Informasi ini tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Gunakan obat ini sesuai dengan petunjuk penggunaan dan resep dokter. Semoga informasi ini bermanfaat.

 

  1. Cherney, Kristeen. 2020. Genital Warts. https://www.healthline.com/health/std/genital-warts. (Diakses pada 27 Juni 2020).
  2. Mayo Clinic. 2020. Basal cell carcinoma. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/basal-cell-carcinoma/symptoms-causes/syc-20354187. (Diakses pada 27 Juni 2020).
  3. Mayo Clinic. 2020. Actinic keratosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/actinic-keratosis/symptoms-causes/syc-20354969#:~:text=An%20actinic%20keratosis%20(ak%2DTIN,%2C%20forearms%2C%20scalp%20or%20neck. (Diakses pada 27 Juni 2020).
  4. MIMS. 2020. Imiquimod. https://www.mims.com//philippines/drug/info/imiquimod?mtype=generic. (Diakses pada 27 Juni 2020).
  5. Multum, Cerner. 2020. Imiquimod topical. https://www.drugs.com/mtm/imiquimod-topical.html. (Diakses pada 27 Juni 2020).
  6. WebMD. 2020. Imiquimod Cream In Metered-Dose Pump. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-1191-1350/imiquimod-topical/imiquimod-3-75-topical/details. (Diakses pada 27 Juni 2020).

Itulah tadi informasi mengenai Imiquimod: Fungsi, Dosis, Efek Samping, Harga, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Minggu, 28 Juni 2020

Alopecia Areata: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Alopecia Areata: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Alopecia areata adalah rambut rontok secara tiba-tiba yang ditandai dengan rambut kepala pitak atau titik-titik kebotakan seperti motif polkadot. Ketahui selengkapnya tentang gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahan di bawah ini!

alopecia-areata-doktersehat

Apa Itu Alopecia Areata?

Alopecia areata adalah kerontokan rambut tidak merata yang diakibatkan oleh penyakit autoimun. Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang tubuh sendiri, termasuk pada folikel rambut yang membuatnya rontok.

Dalam sebagian penderita biasanya mengalami rambut rontok dengan pitak kecil atau sekitar seperempat kepala. Tetapi bagi kebanyakan orang, kerontokan rambut tidak lebih dari beberapa bercak, meskipun dalam beberapa kasus bisa lebih parah.

Terkadang penyakit ini dapat menyebabkan kebotakan rambut pada kulit kepala (alopecia totalis) atau dalam kasus ekstrem, terjadi di seluruh tubuh (alopecia universalis). Kondisi ini dapat terjadi pada siapa pun, meskipun sebagian besar terjadi sebelum usia 30 tahun.

Gejala Alopecia Areata

Penyakit ini biasanya menyebabkan rambut rontok secara tiba-tiba, yaitu dalam beberapa hari atau beberapa minggu.

Gejala yang paling mudah dikenali dari alopecia areata adalah:

  • Rambut rontok seperti pitak di satu atau beberapa tempat di kepala. Dalam kondisi yang lebih parah, kerontokan rambut terjadi seluruh kulit kepala atau seluruh tubuh, termasuk alis, bulu mata, janggut, rambut ketiak, dan rambut kemaluan.
  • Rasa gatal atau sensasi terbakar di area rambut rontok.
  • Bekas rambut rontok menyebabkan kulit berwarna peach.
  • Terkadang ada rambut pendek berwarna atau putih di area kebotakan.

Dalam alopecia areata, folikel rambut tidak hancur dan rambut dapat tumbuh kembali jika peradangan folikel mereda. Kerontokan rambut sering kali akan kembali tumbuh tanpa pengobatan apa pun.

Sekitar 30 persen penderitanya menemukan bahwa kondisinya menyebar ke bagian tubuh lain yang ditumbuhi rambut, atau menjadi siklus kerontokan dan pertumbuhan kembali rambut secara terus-menerus.

Penyakit ini juga dapat terjadi pada kuku dan terkadang perubahan ini adalah tanda pertama bahwa penyakit ini berkembang.

Gejala alopecia areata pada kuku, di antaranya:

  • Kuku berlekuk
  • Bintik-bintik dan garis putih
  • Kuku  terasa kasar
  • Kuku kusam
  • Kuku menipis dan mudah terbelah

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter jika mengalami gejala berikut ini untuk mendapatkan perawatan yang tepat:

  • Tiba-tiba mengalami pitak atau titik botak di kepala.
  • Ketebalan rambut kepala menipis disertai satu atau beberapa titik botak di kepala.
  • Kerontokan rambut di alis, bulu mata, janggut, rambut ketiak, atau rambut kemaluan.

Penyebab Alopecia Areata

Alopecia areata adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan sistem kekebalan tubuh yang merusak folikel rambut, tempat tumbuhnya rambut. Kelainan ini mengarah pada autoimunitas, sistem kekebalan tubuh yang cenderung menyerang tubuhnya sendiri. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh tertentu.

Belum diketahui secara pasti mengapa sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut dan mengakibatkan kerontokan rambut.

Namun, penyakit ini terkadang terkait dengan kondisi autoimun lainnya termasuk:

  • Penyakit tiroid
  • Vitiligo
  • Penyakit lupus
  • Rheumatoid arthritis
  • Kolitis ulseratif

Faktor Risiko Alopecia Areata

Alopecia areata adalah penyakit yang lebih sering terjadi pada orang di bawah usia 30 tahun. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini termasuk:

  • Memiliki keluarga dengan riwayat kebotakan atau rambut rontok.
  • Memiliki kecenderungan penyakit kulit alergi atau reaksi alergi.
  • Memiliki kelainan autoimun lain, seperti systemic lupus erythematosus (SLE) atau tiroiditis Hashimoto
  • Stres

Baca Juga: 16 Jenis Penyakit Autoimun yang Sering Terjadi & Patut Diwaspadai!

Diagnosis Alopecia Areata

Dokter dapat memastikan penyakit dengan melihat tingkat kerontokan rambut dan memeriksa beberapa sampel rambut di bawah mikroskop.

Dokter mungkin juga akan melakukan biopsi kulit kepala untuk mengesampingkan kondisi lain yang menyebabkan kerontokan rambut, termasuk infeksi jamur seperti tinea capitis. Selama biopsi kulit kepala, dokter mengambil sepotong kecil kulit kepala untuk selanjutnya dianalisis.

Tes darah mungkin akan dilakukan jika dokter menduga ada kondisi autoimun lainnya. Tes darah spesifik yang dilakukan tergantung pada kelainan tertentu yang dicurigai dokter.

Namun, dokter mungkin akan menguji keberadaan satu atau lebih kelainan antibodi. Jika antibodi ini ditemukan dalam darah, berarti memiliki kelainan autoimun.

Tes darah lain yang dapat membantu mengesampingkan kondisi lain, di antaranya:

  • Protein C-reaktif dan laju sedimentasi eritrosit.
  • Kadar zat besi.
  • Uji antibodi antinuklear.
  • Hormon tiroid.
  • Testosteron bebas atau total.
  • Hormon perangsang dan luteinisasi folikel.

Pengobatan Alopecia Areata

Sampai saat ini tidak ada obat alopecia areata, tetapi ada perawatan yang mungkin bisa memperlambat kerontokan rambut di kemudian hari atau membantu rambut tumbuh lebih cepat.

Penyakit ini sulit diprediksi atau mungkin memerlukan sejumlah percobaan sampai menemukan obat yang cocok untuk kerontokan rambut jenis ini. Bahkan bagi sebagian orang, kerontokan rambut mungkin masih memburuk, meski dengan perawatan.

Berikut adalah beberapa perawatan alopecia areata secara alami dan medis:

1. Pengobatan Alami

Penderita penyakit ini dapat memilih pengobatan alami berupa terapi alternatif dan obat herbal, di antaranya:

  • Aromaterapi.
  • Akupunktur.
  • Pijat kulit kepala.
  • Makan makanan yang mengandung probiotik.
  • Minum minuman lidah buaya dan gel topikal.
  • Bawang merah atau putih tumbuk, teh hijau, madu, atau santan digosokkan ke kulit kepala.
  • Mengoleskan minyak esensial seperti tea tree oil, rosemary, lavender, daun mint, atau minyak almond.
  • Minyak lainnya, seperti kelapa, jarak, zaitun, dan jojoba.
  • Makan daging dan sayuran.
  • Suplemen herbal, seperti ginseng, teh hijau, kembang sepatu Cina, dan saw palmetto.

Baca Juga: 15 Cara Mengatasi Rambut Rontok secara Alami dan Efektif

2. Pengobatan secara Medis

Jika obat alopecia areata yang alami di atas tidak efektif, berikut ini beberapa pengobatan medis yang mungkin dapat mengatasi kerontokan rambut:

2.1. Obat Topikal

Penderita penyakit ini bisa mengoleskan obat ke kulit kepala untuk membantu merangsang pertumbuhan rambut. Berikut sejumlah obat oles yang tersedia, baik dengan atau tanpa resep dokter:

  • Minoxidil (Rogaine). Obat ini dapat dioleskan dua kali sehari ke kulit kepala, alis, dan jenggot. Minoxidil relatif aman, tetapi membutuhkan waktu satu tahun untuk mendapatkan hasilnya.
  • Kortikosteroid: Obat yang bekerja dengan mengurangi peradangan pada folikel rambut. Kortikosteroid tersedia dalam bentuk krim, salep, lotion, atau busa yang dioleskan ke kulit kepala.
  • Anthralin (Dritho-Scalp). Obat ini mengiritasi kulit untuk membantu pertumbuhan rambut.
  • Imunoterapi topikal. Pengobatan dengan teknik di mana bahan kimia seperti diphencyprone diterapkan pada kulit untuk memicu ruam alergi. Ruam ini dapat menyebabkan pertumbuhan rambut baru dalam waktu enam bulan.

2.2. Suntikan

Pengobatan yang bisa menjadi obat alopecia areata adalah suntikan steroid. Obat ini adalah pilihan umum untuk alopesia areata yang ringan dan untuk membantu rambut tumbuh kembali pada titik-titik botak. Jarum menyuntikkan steroid ke kulit bekas kebotakan.

Perawatan ini harus diulangi setiap satu atau dua bulan untuk menumbuhkan kembali rambut. Namun, ini tidak dapat mencegah rambut rontok baru.

Suntikan kortikosteroid juga dapat diberikan ke kulit kepala atau area lainnya untuk meredakan peradangan.

2.3. Obat Oral

Tablet kortison terkadang digunakan sebagai obat alopecia areata yang meluas. Namun, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu karena obat ini mungkin menimbulkan efek samping.

Pilihan obat lain yang bisa dicoba adalah imunosupresan oral, seperti metotreksat dan siklosporin. Obat ini bekerja dengan menghambat respons sistem kekebalan tubuh.

Tetapi imunosupresan tidak dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama karena risiko efek samping, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), kerusakan hati dan ginjal, dan peningkatan risiko infeksi serius, dan jenis kanker yang disebut limfoma.

2.4. Terapi Cahaya

Pengobatan yang satu ini juga disebut fotokemoterapi atau fototerapi. Terapi ini adalah jenis perawatan radiasi yang menggunakan kombinasi obat oral yang disebut psoralens dan sinar ultraviolet (UV).

2.5. Operasi

Jika obat-obatan di atas belum juga efektif, prosedur operasi dapat menjadi pilihan. Beberapa operasi di antaranya:

  • Terapi laser. Terapi untuk mengobati titik-titik kebotakan di kepala.
  • Transplantasi rambut. Prosedur ini mengambil rambut dari bagian belakang dan samping kepala, kemudian mencangkoknya di area yang botak. Transplantasi rambut melibatkan banyak prosedur.
  • Tato medis. Pigmen berwarna dapat disuntikkan pada alis.

Komplikasi Alopecia Areata

Apakah alopecia areata berbahaya?

Penyakit ini mungkin bersifat sementara atau persisten. Namun, penyakit yang lebih parah dan persisten dapat meningkatkan kemungkinan penyakit ini menyebabkan dampak psikososial, seperti depresi dan kecemasan karena terganggu oleh penampilan rambutnya yang botak.

Pencegahan Alopecia Areata

Mengingat penyakit ini disebabkan autoimun yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, sehingga kerontokan rambut ini tidak dapat dicegah. Gangguan autoimun mungkin merupakan hasil dari beberapa faktor.

Faktor ini termasuk riwayat keluarga, kondisi autoimun lainnya, dan bahkan kondisi kulit. Tetapi tidak semua orang dengan salah satu dari beberapa faktor ini akan mengembangkannya. Inilah alasan mengapa belum diketahui bagaimana cara mencegahnya.

 

  1. Tanpa Tahun. Alopecia Areata. https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=12065. (Diaksess pada 23 Juni 2020)
  2. 2019. Alopecia Areata. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/alopecia-areata-a-to-z. (Diaksess pada 23 Juni 2020)
  3. Tanpa Tahun. Alopecia Areata. https://www.nationwidechildrens.org/conditions/alopecia-areata. (Diaksess pada 23 Juni 2020)
  4. Cafasso, Jacquelyn dan Kimberly H. 2019. Everything You Need to Know About Alopecia Areata. https://www.healthline.com/health/alopecia-areata#diagnosis. (Diaksess pada 23 Juni 2020)
  5. McIntosh, James. 2017. What’s to know about alopecia areata?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/70956#diagnosis. (Diaksess pada 23 Juni 2020)
  6. Oakley, Amanda. 2015. Alopecia areata. https://dermnetnz.org/topics/alopecia-areata/#:~:text=Complications%20of%20alopecia%20areata&text=More%20severe%20and%20persistent%20disease,disease%2C%20and%20other%20autoimmune%20conditions. (Diaksess pada 23 Juni 2020)

Itulah tadi informasi mengenai Alopecia Areata: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Selasa, 23 Juni 2020