Recent Posts

Impaksi Gigi Bungsu: Ciri-Ciri, Penyebab, Pengobatan, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Impaksi Gigi Bungsu: Ciri-Ciri, Penyebab, Pengobatan, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Impaksi gigi bungsu adalah suatu kondisi yang kerap dikeluhkan banyak orang. Lantas, apa itu impaksi gigi bungsu? Ketahui selengkapnya mengenai masalah gigi yang satu ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatannya.

impaksi-gigi-bungsu-doktersehat

Apa Itu Impaksi Gigi Bungsu?

Impaksi gigi bungsu adalah kondisi ketika gigi bungsu (gigi geraham ketiga) tidak tumbuh sebagaimana mestinya karena ketidakmampuan untuk menembus gusi. Gigi bungsu sendiri merupakan gigi yang idealnya baru tumbuh ketika seseorang berusia antara 17-25 tahun.

Akan tetapi, ada kasus di mana gigi bungsu tersebut gagal untuk tumbuh secara sempurna. Gagal sempurna di sini maksudnya gigi yang tumbuh bisa jadi miring atau bahkan tidak sepenuhnya muncul karena sisanya tetap berada di dalam gusi. Nah, inilah yang disebut sebagai impaksi gigi bungsu.

Pada beberapa orang, impaksi yang terjadi tergolong aman dan tidak menimbulkan masalah berarti di kemudian hari. Akan tetapi, ada juga pengidap impaksi yang harus terganggu aktivitasnya dikarenakan timbulnya rasa nyeri pada gigi yang mengalami impaksi tersebut.

Ciri dan Gejala Impaksi Gigi Bungsu

Ciri-ciri impaksi yang terjadi pada gigi bungsu yakni bisa dilihat dari kondisi fisik dari gigi itu sendiri yang tampak miring atau tidak tumbuh secara penuh. Tidak ada gejala lainnya yang menyertai kondisi ini apabila kasusnya terbilang ringan.

Sayangnya, impaksi bisa saja menimbulkan masalah pada gigi seperti gigi rusak atau bahkan infeksi. Jika sudah begini, maka Anda mungkin akan merasakan gejala-gejala berikut ini:

  • Gusi bengkak dan memerah
  • Gusi berdarah dan jadi lebih lunak
  • Nyeri pada rahang
  • Pembengkakan di sekitar rahang
  • Bau mulut
  • Mulut terasa tidak enak
  • Kesulitan membuka mulut

Selain itu, mungkin masih ada lagi gejala lainnya yang akan Anda rasakan apabila kondisi ini sudah sampai menimbulkan komplikasi. Jangan ragu untuk segera periksakan diri ke dokter dan menceritakan mengenai kondisi yang dialami sehingga bisa segera dicarikan solusinya.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Segera periksakan diri Anda ke dokter apabila menemukan indikasi gigi bungsu tidak tumbuh sebagaimana mestinya, pun disertai dengan gejala-gejala yang tadi sudah disebutkan. Pemeriksaan dan penanganan medis diperlukan untuk menangani masalah ini sebelum berkembang menjadi lebih serius.

Penyebab Impaksi Gigi Bungsu

Penyebab impaksi gigi bungsu adalah karena tidak adanya ruang yang cukup bagi gigi tersebut untuk tumbuh. Lantas, bagaimana bisa individu tersebut tidak memiliki ruang yang cukup sementara individu yang lainnya tidak demikian?

Menurut seorang ahli bedah mulut dari Harvard School of Dental Medicine yakni Thomas Dodson, DMD, MPH, hal ini tidak lepas dari bentuk rahang yang dimiliki oleh tiap-tiap orang. Ada beberapa orang yang terlahir dengan bentuk rahang yang bisa dibilang kurang ideal. Terlalu kecil, misalnya.

Nah, bentuk rahang yang seperti ini lantas tidak diimbangi dengan ukuran gigi bungsuâ€"dalam hal iniâ€"gigi bungsu berukuran besar. Akibatnya, gigi tersebut tidak dapat menembus gusi. Alih-alih demikian, yang terjadi adalah gigi terjebak di dalam gusi hingga berujung pada rasa sakit.

Penyebab lainnya dari kondisi ini yakni karena ruang di dalam mulut sudah tidak cukup lagi untuk menampung gigi baru, mengingat gigi bungsu baru tumbuh saat seseorang berusia remaja. Alhasil, gigi harus berdesakan dengan gigi lainnya yang sudah lebih dulu tumbuh. Maka tak heran, gigi bungsu jadi tidak bisa keluar seutuhnya.

Faktor Risiko Impaksi Gigi Bungsu

Selain itu, impaksi gigi bungsu juga kemungkinan memiliki faktor risiko yaitu keturunan (genetik). Ya, seseorang yang anggota keluarganya ada yang mengalami kondisi ini diklaim berpotensi mengalami hal yang sama. Kendati demikian, perlu dilakukan studi lebih lanjut guna memastikannya.

Diagnosis Impaksi Gigi Bungsu

Diagnosis dilakukan untuk memastikan seberapa parah impaksi yang dialami oleh pasien sekaligus mencari tahu apakah kondisi ini telah menyebabkan komplikasi kesehatan lainnya yang lebih serius. Dengan demikian, langkah penanganan bisa segera dilakukan sebelum bertambah buruk.

Diagnosis kasus impaksi gigi geraham ketiga meliputi 3 (tiga) tahapan pemeriksaan yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien seputar keluhan yang dialami.

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah ada anggota keluarga dengan riwayat kondisi yang sama?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan memeriksa kondisi gigi bungsu pasien untuk analisis lebih lanjut. Tak hanya itu, dokter juga akan memantau apakah ada gejala-gejala yang mengindikasikan jika impaksi telah menyebabkan masalah gigi lainnya seperti perdarahan gusi, bau mulut, dan gejala terkait lainnya.

Melalui pemeriksaan fisik, dokter mungkin sudah bisa menentukan apakah kondisi ini perlu ditangani secara khusus atau pasien hanya perlu menerapkan protokol kesehatan guna menjaga agar gigi tetap sehat.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pada kasus tertentu, dokter mungkin juga akan menerapkan prosedur pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang bisa dengan menggunakan medium X-Ray.

Melalui X-Ray, dokter bisa melihat jika ada kerusakan yang terjadi pada gigi. Jika ada, seberapa parah kerusakan tersebut akan menentukan apakah pasien harus menjalani operasi gigi atau tidak.

Pengobatan Impaksi Gigi Bungsu

Pengobatan impaksi gigi bungsu tergantung dari seberapa parah kondisinya. Berikut adalah penjelasan mengenai cara mengobati impaksi yang perlu Anda ketahui.

1. Pengobatan Mandiri

Pada kasus yang terbilang ringan, dokter mungkin tidak akan menerapkan prosedur medis khusus untuk mengatasi masalah ini dan hanya memberikan obat-obatan pereda nyeri. Selain itu, Anda juga bisa melakukan cara-cara alami berikut ini:

  • Berkumur dengan air hangat yang telah dicampur dengan garam (untuk mengatasi peradangan dan rasa nyeri).
  • Berkumur dengan cairan pembersih mulut (mouthwash) dengan kandungan bahan seperti chlorhexidine.
  • Mengonsumsi obat antibiotik (apabila terjadi infeksi).

2. Tindakan Medis

Apabila kondisi gigi memang abnormal dan dikhawatirkan akan berujung pada masalah kesehatan lainnya di kemudian hari, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan cabut gigi. Masalah kesehatan yang dimaksud seperti:

  • Infeksi
  • Kerusakan gigi lain
  • Tumor gigi
  • Kista gigi

Pastikan untuk mengikuti apapun saran yang diberikan oleh dokter guna mengoptimalkan proses pengobatan impaksi ini.

Komplikasi Impaksi Gigi Bungsu

Jika tidak ditangani dengan baik, impaksi mungkin saja akan berujung pada komplikasi. Komplikasi dan dampak negatif lainnya yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

  • Infeksi
  • Gigi berlubang
  • Kerusakan struktur gigi
  • Gigi menumpuk
  • Gigi jadi sulit bersih
  • Kista
  • Tumor
  • Penyakit gusi

Pencegahan Impaksi Gigi Bungsu

Sayangnya, impaksi pada gigi bungsu tidak dapat dicegah. Akan tetapi, Anda bisa melakukan langkah-langkah untuk mencegah kondisi ini sampai menimbulkan komplikasi.

Selain dengan senantiasa menjaga kebersihan gigi, yang perlu Anda lakukan adalah dengan rutin memeriksakan gigi ke dokter setidaknya setiap 6 bulan sekali. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Impacted Wisdom Teeth. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/wisdom-teeth/symptoms-causes/syc-20373808 (Diakses pada 27 Juli 2020)
  2. Marks, J. 2019. What You Should Know About Impacted Wsidom Teeth. https://www.healthline.com/health/impacted-wisdom-tooth#symptoms (Diakses pada 27 Juli 2020)
  3. Wheeler, R. 2012. Why Do We Have Wisdom Teeth? https://www.everydayhealth.com/dental-health/why-do-we-have-wisdom-teeth.aspx (Diakses pada 27 Juli 2020)

Itulah tadi informasi dari slot online terpercaya mengenai Impaksi Gigi Bungsu: Ciri-Ciri, Penyebab, Pengobatan, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Selasa, 28 Juli 2020

Sulfanilamide: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Sulfanilamide: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Sulfanilamide adalah obat untuk mengatasi infeksi jamur vagina. Ketahui sulfanilamide obat apa, fungsi, dosis, aturan pakai, efek samping, dll.

obat-sulfanilamide-doktersehat

Rangkuman Informasi Obat Sulfanilamide

 Nama Obat  Sulfanilamide
 Kandungan Obat  Sulfanilamide
 Kelas Obat  Sulphonamides
 Kategori Obat  Obat resep
 Manfaat Obat  Mengatasi infeksi jamur vagina
 Kontraindikasi Obat  Sensitivitas terhadap sulfonamida
 Sediaan Obat  Krim
 Harga Obat  â€"

Obat antijamur ini adalah obat resep. Konsultasi pada dokter atau apoteker Anda tentang harga sulfanilamide.

Sulfanilamide Obat Apa?

Sulfanilamide adalah obat untuk mengatasi infeksi jamur vagina (vulvovaginal candidiasis). Obat ini juga dapat digunakan untuk mengatasi sensasi terbakar pada vagina, gatal, atau keputihan yang tidak biasa.

Obat ini adalah obat resep yang tergolong dalam kelas obat antijamur sulfonamide. Cara kerja obat antijamur ini adalah menghentikan pertumbuhan jamur penyebab infeksi vagina. Obat ini mungkin digunakan untuk indikasi infeksi jamur lainnya.

Baca Juga: Candidiasis: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Fungsi Obat Sulfanilamide

Obat sulfanilamide digunakan untuk mengatasi infeksi jamur vulvovaginal candidiasis yang menyebabkan infeksi kandidiasis vagina. Kandidiasis vagina adalah kondisi di mana jamur Candida berkembang berlebihan di vagina. Infeksi ini menyebabkan iritasi, gatal, keputihan, sakit saat buang air kecil, dan sensasi terbakar pada vagina.

Peringatan Obat Sulfanilamide

Harap perhatikan beberapa peringatan penting ini sebelum menggunakan obat sulphonamides antijamur ini, sebagai berikut:

  • Beritahu dokter bila Anda memiliki riwayat alergi terhadap kelas alergi sulfa.
  • Beritahu dokter bila Anda memiliki riwayat alergi obat antijamur lainnya.
  • Baca dengan teliti petunjuk penggunaan obat sebelum menggunakannya.
  • Obat ini tersedia dalam bentuk krim (topikal) untuk penggunaan di kulit dengan aplikator.
  • Konsultasi dengan dokter apabila ingin menggunakan obat ini dalam keadaan hamil, menyusui, atau sedar dalam program hamil.
  • Obat ini dapat digunakan untuk dewasa.
  • Jangan gunakan lebih lama dari yang diresepkan. Infeksi kedua mungkin terjadi.

Konsultasi pada apoteker Anda tentang semua hal yang harus ketahui sebelum menggunakan obat antijamur ini.

Interaksi Obat Sulfanilamide

Interaksi obat adalah reaksi ketika dua kandungan obat bertemu dan umumnya menimbulkan efek samping. Sementara ini, belum ada catatan tentang interaksi obat antijamur untuk vagina ini.

Walaupun demikian, sebaiknya tidak menggunakan krim untuk vagina lainnya saat menggunakan obat antijamur ini. Hindari penggunaan sabun atau produk kesehatan vagina selama perawatan infeksi jamur, atau konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.

Efek Samping Sulfanilamide

Berikut ini beberapa efek samping obat antijamur vagina yang mungkin terjadi:

  • Demam
  • Sesak napas
  • Suara serak
  • Bengkak pada wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan

Tanda alergi, seperti:

  • Ruam kulit
  • Gatal
  • Kulit merah
  • Bengkak
  • Kulit melepuh
  • Kulit mengelupas

Efek samping lainnya yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Sakit perut
  • Mual dan muntah
  • Urine gelap
  • Menggigil
  • Luka di mulut
  • Kelelahan
  • Mata kuning

Efek samping lain mungkin terjadi. Harap gunakan obat sesuai perintah dokter dan segera hubungi dokter bila mengalami reaksi alergi atau efek samping dari krim anti jamur ini.

Baca Juga: 13 Cara Merawat Vagina yang Baik dan Benar (Mudah Dilakukan)

Dosis Obat Sulfanilamide

Dosis obat antijamur untuk mengatasi infeksi kandidiasis vulvovaginal adalah sekitar 6 g krim 15% (1 aplikator) satu kali sehari selama 30 hari.

Dosis setiap orang berbeda-beda sesuai dengan gejala yang dialami. Harap konsultasi pada dokter dosis yang tepat untuk kondisi Anda. Informasi ini tidak menggantikan resep dokter.

Cara Pakai Sulfanilamide

Berikut ini panduan cara pakai krim antijamur vagina ini:

  • Ikuti petunjuk penggunaan obat sesuai petunjuk penggunaan sesuai resep dokter.
  • Jangan minum obat ini melalui mulut, obat antijamur ini hanya untuk penggunaan vagina.
  • Cuci tangan Anda sebelum menggunakan obat ini.
  • Tanyakan pada dokter cara menggunakan aplikator atau baca dengan teliti di balik kemasan.
  • Bila Anda lupa menggunakannya, segera gunakan obat saat mengingatnya.
  • Bila Anda mengingat mendekati dosis selanjutnya, lupakan dosis yang terlewat dan gunakan dosis selanjutnya.
  • Jangan menggunakan dua dosis secara bersamaan.

Tanyakan kepada apoteker Anda jika belum memahami instruksi penggunaan obat antijamur pada vagina ini. Gunakan obat ini sesuai dengan resep dokter untuk memaksimalkan kinerja obat untuk menyembuhkan gejala dengan cepat.

Petunjuk Penyimpanan Sulfanilamide

Ikuti petunjuk penyimpanan obat yang benar, sebagai:

  • Simpan obat sulphonamides pada suhu 20°C-25°C.
  • Sebaiknya simpan obat sulphonamides di kotak P3K khusus atau laci yang tertutup rapat.
  • Simpan obat sulphonamides pada kemasan aslinya.
  • Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.
  • Jangan membuang obat sembarangan karena akan mencemari lingkungan.

Itulah pembahasan lengkap tentang obat sulfanilamide untuk apa. Obat ini digunakan untuk mengatasi infeksi jamur vagina. Informasi ini tidak menggantikan konsultasi langsung dengan apoteker.

 

  1. Drugs. 2020. SulfanilamideDrug. https://www.drugs.com/cdi/sulfanilamide.html. (Diakses pada 26 Juli 2020).
  2. MIMS. 2020. Sulfanilamide. https://www.mims.com/philippines/drug/info/sulfanilamide?mtype=generic. (Diakses pada 26 Juli 2020).

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai Sulfanilamide: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Senin, 27 Juli 2020

Risiko Penularan COVID-19 Melalui Toilet dan Pencegahannya oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Risiko Penularan COVID-19 Melalui Toilet dan Pencegahannya oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Seperti yang sudah kita ketahui, penularan virus COVID-19 melalui droplet, baik dari saat berbicara, bersin, batuk, maupun droplet yang menempel. Penularan melalui udara bisa terjadi pada kondisi tertentu pada prosedur-prosedur yang menghasilkan aerosol seperti intubasi pada orang yang akan dioperasi atau resusitasi jantung dan paru. Lalu, bagaimana dengan risiko penularan COVID-19 di toilet?



Risiko Penularan COVID-19 Melalui Toilet

Penularan melalui jalur fecal-oral masih diteliti sebagai jalur penularan COVID-19 karena ditemukan RNA virus ini di tinja pasien. Waktu munculnya virus ini di tinja belum bisa di pastikan apakah pada masa inkubasi, selama sakit atau setelah penyembuhan.

Pada beberapa pasien memang bisa ditemukan gejala-gejala pencernaan seperti diare,muntah, atau nyeri perut. Pada pasien yang memiliki gejala pencernaan maupun tidak memiliki gejala pencernaan tetap bisa ditemukan komponen virus tersebut di tinjanya.

Selain dari tinja, komponen virus ini juga bisa ditemukan di urine penderita.

Sekitar  3,7% pasien dalam urinenya bisa ditemukan komponen virus walau hanya dalam jumlah virus (viral load) yang sedikit. Hal paling penting dalam mengetahui apakah suatu metode penularan berbahaya atau tidak adalah jumlah virus (viral load). Semakin tinggi jumlahnya maka kemungkinan penularan virus melalui metode tersebut semakin tinggi.

Jumlah virus tertentu diperlukan untuk bisa menularkan ke orang lain, contohnya seperti pada virus HIV, jumlah virus di darah cukup tinggi sehingga  virus ini bisa menularkan ke orang lain apabila memakai jarum suntik yang sama namun tidak menular melalui pemakai sendok yang bersamaan karena jumlah virus di ludahnya terlalu rendah untuk bisa menularkan ke orang lain.

Walaupun buktinya masih sedikit, namun penularan melalui fecal-oral ini perlu diperhatikan karena pada tahun 2003 saat wabah SARS terjadi, di sebuah komplek apartemen di Hong Kong terjadi penularan yang sangat cepat melalui aerosol dari saluran pembuangan air.

Jika memang penularan fecal-oral bisa terjadi, maka toilet menjadi salah satu sumber infeksi. Penggunaan toilet yang tidak tepat akan menyebabkan infeksi silang jika tidak ada langkah pencegahan yang  dapat diambil. Hal ini dapat terjadi terutama di toilet umum.

Banyak orang yang memiliki kebiasaan buruk saat menggunakan toilet umum seperti meludah  di dalam toilet dan menyentor tanpa menutup tutup toilet. Kebiasaan  buruk ini mengakibatkan penularan melalui toilet masih mungkin terjadi walaupun untuk memastikannya perlu bukti yang lebih kuat.

Cara Penularan COVID-19 di Toilet

Pada sebuah penelitian ditemukan bahwa ketika kita menekan tombol toilet (flushing), 40%-60% partikel virus dapat mencapai dudukan toilet karena saat kita menekan tombol toilet, ada air yang masuk ke sebuah mangkuk di dalam tangki karena tekanan sehingga menyebabkan perubahan aliran udara. Sebaiknya ketika menekan tombol toilet lebih baik ditutup, sehingga udara yang dihasilkan akan terhalangi oleh tutup toilet.

Kemungkinan penularan lain yang bisa terjadi di toilet adalah saat kita memegang barang-barang yang terkena droplet penderita, seperti gagang pintu dan tombol flush lalu kita memegang mata, mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, karena virus ini bisa masuk melalui bagian tubuh yang bermukosa.

Penularan melalui kontak langsung bisa saja terjadi apabila saat kita berada di toilet umum kita berdiri terlalu dekat dengan penderita lalu dia berbicara, bersin atau batuk. Oleh karena itu, tetapkan jarak aman bila bertemu dengan orang lain, yaitu minimal 1 meter,akan lebih baik bila membatasi jumlah orang yang ada di dalam toilet apabila ini toilet umum. Apabila di rumah ada yang sedang sakit, bila memungkinkan gunakanlah 2 toilet yang berbeda.

Tips Mencegah Penularan COVID-19 Melalui Toilet

Walaupun penularan COVID-19 melalui toilet masih membutuhkan bukti yang lebih banyak, tetapi ada beberapa cara mencegah supaya tidak meningkatkan angka penularan terutama pada orang-orang yang tinggal di tempat komunal seperti panti jompo, rumah sakit, atau di tempat umum seperti pusat perbelanjaan.

Hal-hal yang harus di lakukan adalah membersihkan toilet sesering mungkin dengan air dan sabun atau deterjen, untuk menghilangkan partikel organik lalu baru diberi cairan disinfektan yang direkomendasikan seperti klorin atau alkohol.

Apabila di rumah, cukup gunakan klorin 0,1% atau alkohol 70% dan dilakukan disinfkesi selama 1 menit. Namun untuk toilet umum di fasilitas  kesehatan perlu dilakukan disinfeksi sebanyak tiga kali sehari dengan klorin 0,1%, alkohol 70% atau hidrogen peroksida di atas 0,5%.

Virus ini bisa bertahan beberapa hari di jenis permukaan yang berbeda, seperti di kayu bisa bertahan 1 hari, di kaca bertahan 2 hari dan plastik serta stainless steel bisa bertahan hingga 4 hari. Petugas kebersihan yang melakukannya harus memakai alat pelindung diri seperti baju tertutup, masker, sarung tangan, sepatu boots dan kaca mata.

Selalu sediakan hand sanitizer di toilet dan instruksikan pengguna toilet untuk mencuci tangan sesering mungkin. Sebaiknya alat cuci tangan yang digunakan adalah yang otomatis, bisa sehingga meminimalisir kontak. Pastikan untuk menggunakan tisu setelah menutup kran air cuci tangan untuk menghindari kemungkinan terkontaminasi virus.

Kemudian untuk jenis tempat sampah di toilet sebaiknya memakai sensor, namun yang memakai pedal juga lebih baik daripada model tempat sampah yang perlu dibuka menggunakan tangan. Secara ideal, toilet yang paling baik dalam mengurangi penyebaran virus ini adalah yang memiliki model tanpa kontak dan barang-barang sekali pakai. Meskipin demikian, kita sebaiknya harus tetap melakukan langkah-langah pencegahan COVID-19.

 

Informasi kesehatan ini disponsori:
logo-cimsa-ugm-doktersehat

 

 

 

  1. Amirian, Susan.E.2020.Potential fecal transmission of SARS-CoV-2: Current evidence and implications for public health. International Journal of Infectious Diseases 95 (2020) 363â€"370
  2. McKinney, Kelly R.2006.Environmental transmission of SARS at Amoy Gardens.J Environ Health.
  3. Li, Yun-yun, et al.2020.Can a toilet promote virus transmission ? From fluid dynamics perspective.American Institute of Physics
  4. WHO.2020.Clearing and disinfection of environmental surfaces in the context of COVID-19: Interim guidance.

Itulah tadi informasi dari judi poker mengenai Risiko Penularan COVID-19 Melalui Toilet dan Pencegahannya oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Minggu, 26 Juli 2020

Paronikia: Jenis, Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Paronikia: Jenis, Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Paronikia adalah masalah kesehatan yang kasusnya terbilang umum. Memangnya, apa itu paronikia? Ketahui lebih lanjut mengenai kondisi yang satu ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya.

paronikia-doktersehat

Apa Itu Paronikia?

Paronikia adalah kondisi ketika jaringan kulit yang ada di sekitar kukuâ€"tangan dan kakiâ€"mengalami infeksi, entah itu infeksi bakteri, virus, atau jamur. Area kulit yang terdampak lantas akan mengalami pembengkakan yang terasa sakit saat tersentuh.

Kondisi yang umum kita kenal sebagai ‘cantengan’ ini merupakan jenis infeksi yang tidak boleh disepelekan. Pasalnya, infeksi yang terjadi apabila dibiarkan akan semakin bertambah parah dan bisa-bisa menyebabkan rusaknya jaringan kulit.

Jenis-Jenis Paronikia

Paronikia sendiri terbagi menjadi 2 (dua) jenis yang mana pembagian didasari dari faktor penyebab, kemunculan gejala, dan durasi proses penyembuhan. Jenis-jenis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Paronikia Akut

Paronikia akut adalah jenis yang proses kemunculan gejalanya berlangsung dengan cepat. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri, tepatnya bakteri Enterococcus dan Staphylococcus.

Terjadinya infeksi bakteri tersebut bukannya tanpa sebab, melainkan dipicu oleh sejumlah aktivitas seperti mencabut kutikula kuku hingga perawatan kuku (manicure).

2. Paronikia Kronis

Sementara itu, paronikia kronis terjadi secara bertahap. Jenis ini bisa dialami oleh jari-jari tangan maupun kaki. Bakteri jenis candida ditengarai menjadi biang keladi dari kondisi ini.

Dibandingkan dengan jenis akut, jenis kronis ini memiliki proses penyembuhan yang lebih lama. Selain itu, seseorang yang mengalami paronikia kronis juga berpotensi untuk kembali mengalami masalah kesehatan ini di kemudian hari.

Ciri dan Gejala Paronikia

Penyakit infeksi ini ditandai oleh sejumlah ciri dan gejala. Gejala yang muncul bisa saja berbeda-beda, tergantung dari jenis yang diderita hingga tingkat keparahannya.

Adapun gejala paronikia yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Ciri dan Gejala Paronikia Akut

Ciri-ciri dari kondisi akut meliputi:

  • Nyeri pada area kulit yang terdampak
  • Area kulit yang terinfeksi berwarna kemerahan
  • Area kulit yang terinfeksi membengkak
  • Kuku di sekitar area kulit yang terinfeksi mudah lepas
  • Terdapat nanah

2. Ciri dan Gejala Paronikia Kronis

Sementara itu, ciri-ciri paronikia kronis meliputi:

  • Area kulit di sekitar kuku melunak
  • Area kulit yang terdampak membengkak dan berwarna kemerahan
  • Kutikula kuku lepas
  • Kuku dan area kulit yang terinfeksi lembap

Selain gejala-gejala di atas, mungkin masih ada lagi gejala lainnya yang timbul saat Anda mengalami infeksi yang satu ini. Jika kondisi sudah berlangsung lama dan semakin menimbulkan ketidaknyamanan, segera kunjungi dokter guna dilakukan penanganan medis lebih lanjut.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala yang tadi sudah disebutkan. Penanganan medis sedini mungkin bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, pun mencegah kondisi bertambah buruk dan berujung pada komplikasi serius.

Penyebab Paronikia

Penyebab paronikia adalah infeksi yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri (beberapa kasus disebabkan oleh jamur dan virus). Bakteri yang dimaksud seperti:

  • Staphylococcus aureus
  • Streptococcus pyogenes
  • Enterococcus
  • Candida

Bakteri masuk ke dalam jaringan kulit yang berada di sekitar kuku. Hal ini dimungkinkan karena pada jaringan kulit tersebut terdapat kerusakan yang dipicu oleh sejumlah hal seperti:

  • Menggigit kuku
  • Memotong kuku terlalu pendek
  • Pertumbuhan kuku yang lambat
  • Manicure
  • Tangan terlau sering terkena air sehingga lembap

Faktor Risiko Paronikia

Ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami penyakit paronikia. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Jenis kelamin (wanita lebih rentan mengalami kondisi ini ketimbang pria)
  • Sering menggunakan sarung tangan/kaos kaki
  • Sering terpapar air
  • Sering terpapar bahan kimia tertentu

Diagnosis Paronikia

Diagnosis dilakukan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan pasien bisa mengalami kondisi tersebut, pun seberapa besar tingkat keparahannya. Hal ini menjadi penting karena akan menentukan langkah medis yang nantinya diterapkan guna mengatasinya.

Diagnosis terbagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien berkaitan dengan keluhan yang dialami. Pertanyaan di antaranya meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya? Jika ya, seberapa sering?
  • Apa saja kegiatan yang dilakukan sehari-hari?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap fisik pasien yang dalam hal ini adalah kuku dan kulit di sekitarnya. Melalui pemeriksaan fisik, dokter mungkin sudah bisa mengidentifikasi infeksi yang terjadi.

Akan tetapi, bisa saja pemeriksaan fisik tidak cukup memberikan gambaran mengenai kondisi pasien. Jika sudah begitu, maka pemeriksaan penunjang akan dilakukan.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penujang dilakukan untuk memastikan jenis dan tingkat keparahan paronikia yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah pengambilan sampel cairan yang ada pada kulit yakni nanah untuk kemudian dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

Pengobatan Paronikia

Pengobatan masalah kesehatan yang satu ini tergantung dari jenis dan tingkat keparahannya. Pada kasus yang terbilang ringan, Anda mungkin bisa mengatasi kondisi ini secara mandiri seperti dengan merendam tangan di air hangat selama beberapa menit.

Air hangat dapat membantu membunuh bakteri yang ada di dalam kulit. Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi obat-obatan seperti ibuprofen dan paracetamol untuk meredakan rasa nyeri yang timbul.

Sementara itu, pengobatan paronikia juga meliputi pemberian obat-obatan antibiotik apabila kondisi ini disebabkan oleh bakteri. Obat antibiotik yang dimaksud seperti:

  • Clindamycin
  • Dicloxacillin

Apabila kondisi ini disebabkan oleh infeksi jamur, maka dokter akan meresepkan obat antijamur topikal sebagai solusinya. Obat antijamur yang umum diberikan adalah:

  • Ketoconazole
  • Clotrimazole

Selain metode-metode di atas, mungkin masih ada lagi metode pengobatan lainnya yang akan diterapkan oleh dokter menyesuaikan dengan kondisi pasien. Pastikan Anda mendapat penanganan medis yang tepat.

Pencegahan Paronikia

Kondisi ini dapat dicegah dengan sejumlah tips berikut ini:

  • Hentikan kebiasaan menggigit kuku.
  • Hindari menggunting kuku terlalu pendek.
  • Hindari paparan air pada jari tangan dan kaki terlalu lama.
  • Hindari penggunaan sarung tangan dalam waktu lama.
  • Jaga kebersihan jari tangan dan kaki.

 

  1. Anonim. 2018. Paronychia. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/paronychia-a-to-z (Diakses pada 24 Juli 2020)
  2. Anonim. What is Paronychia. https://kidshealth.org/en/teens/paronychia.html (Diakses pada 24 Juli 2020)
  3. Ellis, M. 2018. Paronychia. https://www.healthline.com/health/paronychia#causes (Diakses pada 24 Juli 2020)
  4. Kandola, A. 2018. How to treat paronychia (an infected nail). https://www.medicalnewstoday.com/articles/324059#treatment (Diakses pada 24 Juli 2020)

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Paronikia: Jenis, Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Jumat, 24 Juli 2020

Amputasi: Penyebab, Prosedur, Pemulihan, dll oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Amputasi: Penyebab, Prosedur, Pemulihan, dll oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Amputasi adalah prosedur pengangkatan bagian tubuh seperti kaki, tangan, atau jari akibat suatu kondisi ekstrim. Amputasi dilakukan untuk menyelamatkan hidup seseorang. Ketahui apa itu amputasi, penyebab, prosedur, dan proses pemulihannya di sini.

doktersehat-amputasi

Apa Itu Amputasi?

Amputasi adalah pengangkatan seluruh atau sebagian anggota tubuh seperti kaki, tangan, jari kaki, atau jari tangan akibat kondisi kronis. Prosedur ini dilakukan sebagai pilihan terakhir apabila tidak ada prosedur medis lain yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan hidup seseorang.

Alasan paling umum mengapa prosedur pengangkatan tubuh dibutuhkan adalah saat ada anggota tubuh yang tidak mendapat aliran darah, oksigen, dan nutrisi sehingga ada jaringan atau sel yang mati. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, operasi, atau cedera (amputasi traumatik).

Amputasi mungkin menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Pasien yang menjalani prosedur pengangkatan anggota tubuh harus mendapat dukungan dan bantuan medis baik untuk memulihkannya secara fisik dan mental.

Gejala Amputasi

Pasien penyakit arteri perifer, diabetes, dan iskemia rentan kehilangan anggota tubuh apabila kondisinya semakin memburuk. Premier Surgical Limb Preservation Clinic menyampaikan bahwa kondisi tersebut dapat dicegah dengan deteksi dini tanda dan gejala amputasi, termasuk:

  • Mati rasa pada sebagian anggota tubuh hingga sulit bergerak
  • Nyeri hebat
  • Kulit mengilap dan kering
  • Denyut nadi melemah pada anggota gerak
  • Infeksi yang tidak dapat diobati dengan antibiotik
  • Kulit kaki dan tangan menebal
  • Gangren, jaringan tubuh yang mati akibat kekurangan pasokan darah

Apabila mengalami sebuah cedera parah pada anggota tubuh, pengangkatan anggota tubuh mungkin dibutuhkan bila mengalami gejala:

  • Pendarahan parah pada lokasi anggota tubuh yang cedera
  • Nyeri sesuai dengan tingkat keparahan cedera dan pendarahan
  • Jaringan tubuh hancur atau rusak parah

Hilangnya anggota tubuh secara tiba-tiba tanpa gejala juga mungkin terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, luka bakar, kekerasan, atau peristiwa lain.

Kapan Harus ke Dokter?

Anda harus rajin konsultasi ke dokter bila Anda memiliki riwayat medis yang berisiko untuk kehilangan anggota tubuh. Anda dapat mencegah risiko amputasi dengan melakukan perawatan dan pengobatan yang disarankan dokter.

Selain itu, segera mungkin hubungi dokter bila seseorang mengalami cedera atau kecelakaan parah yang berisiko pendarahan, kehilangan anggota tubuh, atau kondisi emergensi lainnya.

Baca Juga: Kanker Tulang: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Penyebab Amputasi

Amputasi adalah pilihan terakhir apabila arteri (pembuluh nadi yang mengalirkan darah) tersumbat. Prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh anggota tubuh diperlukan bila mengalami:

  • Infeksi parah
  • Mati rasa
  • Luka parah atau hancur
  • Jaringan dipengaruhi dengan gangren
  • Jaringan dipengaruhi kanker
  • Cedera atau luka serius
  • Tubuh tidak bisa digerakan atau fungsi anggota gerak terbatas
  • Penebalan jaringan saraf (neuroma)
  • Infeksi serius yang tidak membaik dengan perawatan atau antibiotik
  • Frostbite, membekunya sebagian organ tubuh yang terpapar oleh suhu dingin yang berlebihan 0°C (32°F)

Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat:

  • Penyakit: Diabetes, pembekuan darah, infeksi tulang (osteomielitis), arteri perifer, dan iskemia (kekurangan suplai darah).
  • Pembedahan: Operasi pengangkatan tumor di sekitar tulang atau otot.
  • Cedera: Cedera traumatis akibat kecelakaan, luka bakar, luka tusuk, hantaman benda tajam, dan lainnya.

Seberapa besar anggota tubuh yang diangkat tergantung pada kondisi jaringan dan suplai darah. Apabila jaringan tidak mendapat suplai darah yang penuh oksigen, maka jaringan akan mati dan terinfeksi.

Faktor Risiko Amputasi

Seperti yang sudah disebutkan, beberapa penyakit berisiko menghambat aliran darah atau arteri hingga jaringan pada anggota gerak mati, di antaranya:

  • Diabetes
  • Infeksi tulang
  • Arteri perifer
  • Iskemia
  • Pembekuan darah

Selain itu, Anda berbagai kondisi tak terduga yang membuat seseorang rentan mengalami kecelakaan dan kehilangan anggota tubuh. Misalnya, bila Anda bekerja dengan alat berat atau mengalami kecelakaan parah. Maka dari itu, disarankan untuk menjaga keselamatan kerja dan keselamatan diri di manapun berada.

Prosedur Amputasi

Pengangkatan anggota tubuh termasuk jenis operasi darurat, berikut ini prosedurnya:

1. Sebelum Operasi

Apabila ini adalah prosedur amputasi yang direncanakan, dokter akan mengidentifikasi jenis amputasi dan rencana pemulihan pasca operasi. Dokter juga akan memeriksa kondisi fisik, gizi, sistem kardiovaskular, pernapasan, serta perkembangan penyakit yang mendasarinya.

Anda juga akan diberi pengarahan dan dampingan secara psikologis. Anda juga disarankan untuk konsultasi seputar dukungan keluarga, efek sosial, pekerjaan, dan perubahan yang akan terjadi setelah operasi dan bantuan yang Anda butuhkan untuk mengatasinya.

2. Selama Operasi

Dokter akan memberi anestesi umum atau obat bius agar operasi tidak terasa sakit. Dokter juga akan menggunakan anestesi epidural atau anestesi spinal untuk membuat tubuh bagian bawah mati rasa.

Sebelum dimulai, dokter akan memeriksa denyut nadi, suhu kulit, dan kondisi keseluruhan bagian tubuh yang akan diangkat. Dokter akan membuang semua jaringan atau tulang yang rusak dengan peralatan medis.

Setelah selesai, dokter akan menutup luka dan merapikan kembali pembuluh darah, saraf, dan tulang sehat di sekitar lokasi pembedahan. Dokter akan menggunakan pembalut steril atau perban untuk membalutnya.

3. Pascaoperasi

Pasien memerlukan perawatan selama 5-14 hari. Perawatan tergantung pada jenis operasi dan komplikasi yang mungkin terjadi. Dokter juga akan memberi beberapa obat pascaoperasi untuk memulihkan fisik Anda.

Dalam kondisi ini, Anda membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat. Dokter juga akan menyarankan berbagai opsi rehabilitasi dan pemulihan jangka panjang agar Anda tetap sehat dan dapat beraktivitas kembali.

Baca Juga: 10 Ciri-Ciri Kanker Tulang yang Perlu Dikenali dan Diwaspadai!

Pemulihan Pascaamputasi

Total pemulihan luka pasca operasi membutuhkan waktu sekitar 8 minggu. Selama itu, dokter akan tetap memantau keadaan Anda serta memberikan resep obat dan saran medis lainnya.

Anda juga mungkin membutuhkan bantuan dari ahli fisioterapi (spesialis pasca operasi) dan psikolog untuk membantu terapi fisik dan mental. Umumnya, dokter akan menyarankan rehabilitasi mental untuk membantu mengembalikan kondisi fisik dan mental Anda.

Pasien juga membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, termasuk:

  • Latihan untuk mengontrol otot.
  • Latihan menggunakan alat bantu gerak yang tersedia.
  • Latihan untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.
  • Dukungan emosional dari keluarga, teman, atau orang-orang di sekitar.

Idealnya, luka harus sepenuhnya sembuh dalam waktu sekitar empat hingga delapan minggu. Namun, penyesuaian fisik dan emosional untuk kehilangan anggota tubuh bisa menjadi proses yang panjang.

Komplikasi Amputasi

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Gangguan jantung
  • Gangguan trombosis dalam vena
  • Radang paru-paru
  • Luka
  • Infeksi
  • Pemulihan pasca operasi yang lama
  • Kontraktur, peregangan kulit, tendon, ligamen, atau kuku

Orang tua juga rentan mengalami komplikasi pengerasan darah yang berisiko kematian. Konsultasi pada dokter untuk mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat proses pemulihan.

Cara Mencegah Amputasi

Premier Surgical Limb Preservation Clinic menyampaikan bahwa 65% risiko amputasi akibat penyakit tersebut dapat dicegah dengan perawatan maksimal dan mengenali gejala kelumpuhan jaringan sebelum memburuk.

Selain itu, selalu gunakan peralatan keselamatan kerja bila Anda bekerja di pabrik atau menggunakan alat-alat berat dengan risiko kecelakaan tinggi. Anda juga harus menggunakan peralatan keselamatan berkendara dan mematuhi aturan lalu-lintas untuk mengurangi risiko fatal kecelakaan.

 

  1. Health Direct. 2019. Amputations. https://www.healthdirect.gov.au/amputation. (Diakses pada 17 Juli 2020).
  2. Johns Hopkins Medicine. 2020. Amputation. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/amputation. (Diakses pada 17 Juli 2020).
  3. Medline Plus. 2018. Traumatic amputation. https://medlineplus.gov/ency/article/000006.htm#. (Diakses pada 17 Juli 2020).
  4. NHS. 2019. Amputation. https://www.nhs.uk/conditions/amputation/. (Diakses pada 17 Juli 2020).
  5. Premier Surgical. 2015. 8 SIGNS AND SYMPTOMS YOU MAY BE AT RISK OF LIMB LOSS. https://www.premiersurgical.com/12/8-signs-and-symptoms-you-may-be-at-risk-of-limb-loss/. (Diakses pada 17 Juli 2020).
  6. WebMD. 2020. Amputation Overview. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/definition-amputation#1. (Diakses pada 17 Juli 2020).

Itulah tadi informasi dari agen idn poker mengenai Amputasi: Penyebab, Prosedur, Pemulihan, dll oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sabtu, 18 Juli 2020

12 Cara Mencegah Penyakit Flu yang Mudah dan Ampuh oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 12 Cara Mencegah Penyakit Flu yang Mudah dan Ampuh oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Cara mencegah flu sangat penting untuk diketahui dan dipraktikkan karena penyakit sejuta umat ini rentan terjadi pada siapa pun. Selengkapnya simak langkah-langkah yang harus dilakukan agar terhindar dari flu di bawah ini!

cara-mencegah-flu-doktersehat

Cara Mencegah Flu

Influenza atau flu adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus ribonucleic acid (RNA) dari famili Orthomyxoviridae (virus influenza).

Gejala flu ditandai dengan menggigil, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala terasa berat, batuk, lelah, dan rasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat dicegah dengan perubahan hanya hidup dan langkah pencegahan lainnya.

Berikut ini berbagai cara mencegah penyakit flu:

1. Rajin Cuci Tangan

Sering mencuci tangan dengan sabun dan air dapat menghilangkan kuman yang menempel di tangan. Ketika mencuci tangan, lebih baik menggosokkan kedua tangan bersama-sama dengan seksama selama 20 detik dan menggunakan air yang mengalir atau air keran. Jika tidak tersedia air atau sabun, cara mencegah flu bisa menggunakan hand sanitizer berbahan alkohol.

2. Membersihkan Permukaan Benda dengan Disinfektan

Jika Anda atau salah satu anggota keluarga di rumah terkena flu, bersihkan permukaan benda yang sering digunakan seperti gagang pintu, gagang telepon, pegangan tangga, sakelar lampu, atau permukaan benda lainnya menggunakan disinfektan.

Ketika sedang bekerja, sempatkan untuk selalu membersihkan permukaan benda-benda di sekitar seperti keyboard, mouse komputer, telepon genggam, gagang pintu, dan benda lainnya.

Cara mencegah penyakit flu ini mampu membunuh kuman sehingga mengurangi risiko tertular virus. Sebaiknya gunakan disinfektan pada benda tersebut setiap hari.

3. Hindari Menyentuh Hidung, Mulut, dan Mata

Jika Anda merasa tangan tidak steril dari kuman dan belum sempat mencucinya, maka usahakan tangan untuk tidak menyentuh hidung, mulut, dan mata. Ini sebagai cara mencegah flu karena virus penyebab flu dan pilek dapat menyebar dari beberapa anggota tubuh tersebut.

4. Tutup Mulut dan Hidung Saat Bersin atau Batuk

Tutupi mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin. Cara mencegah penyakit flu ini dapat mencegah orang-orang di sekitar tertular virus. Flu dan penyakit pernapasan serius lainnya, seperti respiratory syncytial virus (RSV), batuk rejan, dan severe acute respiratory syndrome (SARS), yang ditularkan oleh batuk, bersin, atau tangan yang terkontaminasi menyentuh hidung dan mulut.

5. Tetap di Rumah Saat Sakit

Jika mengalami flu, usahakan jangan pergi bekerja, sekolah, atau aktivitas lainnya yang terdapat orang banyak. Sebaiknya tetap tinggal di rumah sebagai satu cara mencegah flu menular ke orang lain. Sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan anggota keluarga di rumah atau pakai masker jika mengharuskan bertemu seseorang.

6. Hindari Kerumunan

Meskipun menghindari kerumunan sering kali sulit, tetapi jika membatasi kontak dengan orang-orang selama musim flu, Anda dapat mengurangi risiko terkena infeksi. Virus flu dapat menyebar dengan cepat di fasilitas umum, termasuk sekolah, tempat kerja, panti jompo, dan tempat lainnya.

Jika memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, gunakanlah masker setiap kali berada di tempat umum selama musim flu.

Cara mencegah penyakit flu dengan menjauhi penderita flu dapat melindungi diri dari penyebaran virus, serta jaga jarak dari siapa pun yang batuk, bersin, atau memiliki gejala pilek atau virus lainnya.

Baca Juga: Influenza: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Pencegahan, dll

7. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Sistem kekebalan tubuh yang kuat membantu tubuh melawan berbagai infeksi. Jika sakit, sistem kekebalan yang kuat akan membantu mengurangi keparahan gejala.

Untuk membangun kekebalan tubuh, tidur yang cukup setidaknya 8 hingga 9 jam setiap malam. Juga pertahankan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin, setidaknya 30 menit sekitar tiga kali dalam seminggu.

Konsumsi pula makanan yang sehat dan kaya nutrisi, serta hindari asupan gula berlebih, makanan cepat saji, dan makanan berlemak. Sebagai gantinya, perbanyak makan buah dan sayuran yang mengandung banyak vitamin dan antioksidan untuk meningkatkan kesehatan.

Jika ingin yang praktis, cara mencegah flu bisa mengonsumsi multivitamin untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter tentang dosis, riwayat kesehatan, dan alergi (gatal, sesak napas, dan pembengkakan).

8. Memperbaiki Usus

Usus adalah pintu gerbang menuju kesehatan karena hampir 80% dari sistem kekebalan tubuh berada di usus. Jadi, pastikan perut dalam kondisi prima dan konsumsi makanan dan minuman yang mengandung probiotik berkualitas tinggi.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup seperti bakteri atau jamur yang ada dalam sistem pencernaan manusia. Mikroorganisme ini menjaga tingkat bakteri usus yang baik untuk membantu melawan infeksi. Makanan yang dapat meningkatkan probiotik dalam pencernaan, termasuk yoghurt, tempe, acar, dan kimchi.

9. Vitamin D

Vitamin D adalah nutrisi untuk memperkuat sistem kekebalan yang berarti dapat melawan infeksi dan mengatur kekebalan tubuh. Disarankan mengonsumsi suplemen vitamin D berkualitas tinggi setiap hari. Namun, terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter mendapatkan saran dosis yang tepat.

Selain dalam bentuk suplemen, vitamin D juga bisa didapatkan hanya dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi hari. Cara mencegah flu ini bisa dilakukan selama 10-15 menit setiap pagi.

10. Dapatkan Vaksin Flu Tahunan

Virus flu yang menyebar dominan berubah dari tahun ke tahun, untuk itu pastikan memperbarui vaksin setiap tahun. Mendapatkan vaksin mampu mengurangi risiko penyakit rata-rata 40 sampai 60 persen. Jika terserang flu setelah vaksin, suntikan dapat mengurangi keparahan dan durasi penyakit.

Vaksin dosis tinggi memiliki sekitar empat kali jumlah antigen daripada vaksin flu biasa. Vaksin adjuvant memiliki bahan kimia yang mampu merangsang sistem kekebalan tubuh. Suntikan ini mampu membangun respons imun yang lebih kuat terhadap vaksin.

Baca Juga: 9 Obat Flu Alami yang Paling Manjur untuk Anak dan Dewasa

11. Berhenti Merokok

Jika perokok, segera berhenti karena bisa menjadi salah satu cara mencegah penyakit flu. Tidak hanya untuk diri sendiri, juga untuk anak-anak, keluarga, atau siapa pun yang dekat dengan Anda.

Perokok memiliki respons yang lebih besar terhadap virus, termasuk flu. Gejala virus flu pada seorang perokok dapat memiliki efek yang parah. Misalnya, perokok mungkin berisiko lebih tinggi mengancam nyawa daripada bukan perokok selama musim flu.

12. Periksa ke Dokter Jika Memiliki Gejala Flu

Flu bisa berbahaya pada orang berusia di atas 65 tahun, untuk itu periksakan ke dokter jika memiliki gejala flu. Gejala flu yang harus diperhatikan, termasuk demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri, sakit kepala, kelelahan, dan pilek.

Penyakit flu tidak ada obatnya, tetapi jika terpapar virus dan segera ke dokter lebih awal, Anda mungkin akan mendapat resep obat antivirus seperti Tamiflu.

Jika diminum dalam waktu 48 jam pertama gejala muncul, antivirus dapat mempersingkat waktu flu dan mengurangi keparahan gejala. Manfaat cara mencegah flu ini dapat mengurangi risiko komplikasi seperti pneumonia, rawat inap, dan kematian.

 

  1. Anonim. 2020. 10 Tips for Preventing the Cold & Flu Naturally. https://www.amymyersmd.com/article/prevent-cold-flu-naturally/. (Diakses pada 16 Juli 2020)
  2. Anonim. 2020. Healthy Habits to Help Prevent Flu. https://www.cdc.gov/flu/prevent/actions-prevent-flu.htm#:~:text=The%20single%20best%20way%20to,to%20treat%20and%20prevent%20flu. (Diakses pada 16 Juli 2020)
  3. Higuera, Valencia. 2019. How to Prevent the Flu: Natural Ways, After Exposure, and More. https://www.healthline.com/health/flu/how-to-prevent-flu-naturally#vaccinate. (Diakses pada 16 Juli 2020)
  4. Nichols, Hannah. 2020. How to avoid catching the flu. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321005#5.-Quit-smoking. (Diakses pada 16 Juli 2020)

Itulah tadi informasi mengenai 12 Cara Mencegah Penyakit Flu yang Mudah dan Ampuh oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Kamis, 16 Juli 2020

11 Cara Berhenti Mengeluh agar Hidup Lebih Bahagia oleh - layananhomecare.site

Halo sahabat selamat datang di website layananhomecare.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 11 Cara Berhenti Mengeluh agar Hidup Lebih Bahagia oleh - layananhomecare.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Ada sejumlah cara berhenti mengeluh yang bisa Anda lakukan guna menghentikan kebiasaan negatif yang satu ini. Simak apa saja cara menghentikan kebiasaan mengeluh berikut ini agar hidup jadi lebih bahagia!

cara-berhenti-mengeluh-doktersehat

Cara Berhenti Mengeluh

Wajar bagi kita manusia untuk sesekali mengeluh, terlebih jika masalah yang dihadapi memang begitiu berat. Akan tetapi, mengeluh terus-menerus juga tidak baik. Oleh karena itu, simak bagaimana cara berhenti mengeluh berikut ini.

1. Alihkan Pikiran

Cara menghentikan kebiasaan mengeluh yang pertama adalah dengan sebisa mungkin mengalihkan pikiran Anda dari problematika yang tengah dihadapi. Bukan bermaksud untuk ‘melarikan diri’ dari masalah, metode ini bertujuan untuk membantu Anda untuk tenang sejenak sehingga bisa berpikir jernih sebelum mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

Mengalihkan pikiran sejenak dengan hal-hal lain juga akan menghentikan Anda dari mengeluh berlarut-larut. Anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti berolahraga, bermain musik, atau kumpul bersama teman-teman.

2. Lihat ke Belakang

Sebelum Anda semakin larut dalam keluh kesah, coba lihat lagi ke belakang hal apa yang tengah mengganggu Anda hingga rasanya ingin mengeluh. Setelah itu, tanyakan pada diri sendiri apakah hal tersebut pantas untuk dikeluhkan?

Sekiranya masalah yang dihadapi tidak terlalu signifikan dampaknya bagi Anda, maka sebaiknya jangan buang-buang tenaga untuk mengeluhkan masalah tersebut. Kembali ke cara pertama, Anda bisa mengalihkan pikiran sejenak ke hal-hal yang lebih positif.

3. Teknik ‘Gelang Karet’

Teknik ‘gelang karet’, apa itu? Ya, ini adalah salah satu cara berhenti mengeluh yang mungkin saja efektif.

Anda hanya memerlukan satu buah gelang karet, kemudian kenakan gelang karet tersebut pada pergelangan tangan. Setiap kali Anda mengeluh, tarik gelang karet tersebut dan lepaskan hingga ‘memukul’ pergelangan tangan.

Lumayan sakit, bukan? Nah, metode ini bertujuan untuk memberi pelajaran kepada Anda bahwa ada konsekuensi yang harus diterima setiap kali mengeluh. Dengan demikian, Anda bisa saja jadi enggan mengeluh karena malas harus menyakiti tubuh sendiri.

4. Gunakan Medium Berkeluh Kesah yang Tepat

Seorang psikolog bernama Susan Albers mengatakan jika memang ingin mengeluh, sebaiknya jangan sampai diketahui orang banyak seperti membagikannya di media sosial. Pasalnya, hal ini dikhawatirkan akan memancing berbagai macam respons dari pengguna media sosial lainnya dan bisa-bisa Anda jadi tidak bisa berhenti untuk terus berkeluh kesah.

Alih-alih memanfaatkan media sosial untuk ‘curhat’, sebaiknya gunakan medium yang sifatnya lebih pribadi seperti email atau cukup melalui percakapan telepon dengan orang terdekat yang dipercaya.

5. Ceritakan Inti dari Masalah Anda

Saat Anda memutuskan untuk berkeluh kesah dengan orang lain, maka usahakan jangan bertele-tele dan langsung pada intinya saja. Hal ini agar orang yang Anda ajak bicara tersebut bisa segera mengerti permasalahan Anda dan segera mencari solusinya.

Dengan demikian, Anda tidak akan semakin larut dalam keluh kesah karena selain rasa stres tersalurkan, solusi jadi lebih cepat ditemukan.

6. Cari Sisi Positif dari Masalah yang Terjadi

Setiap masalah yang mendera tidak mungkin tidak ada sisi positifnya, sekecil apapun itu. Nah, cara menghentikan kebiasaan mengeluh lainnya adalah dengan mencari tahu apa yang menjadi sisi positif dari problematika hidup yang sedang Anda hadapi.

Kendati terdengar klise, mengetahui sisi positif dari suatu masalah membantu Anda untuk lebih bisa bersyukur. Manakala rasa syukur itu muncul, otomatis kebiasaan berkeluh kesah tersebut akan hilang dengan sendirinya.

7. Menjauh dari Lingkungan ‘Toxic’

Hampir sama dengan poin nomor satu, cara berhenti mengeluh selanjutnya adalah dengan menjauh sementara dari lingkungan yang dirasa malah akan semakin memperburuk kondisi mental Anda. Tetap berada di antara orang-orang yang tidak tepat hanya akan menambah keluhan dan bisa membuat Anda semakin stres.

Sebagai contoh, saat Anda sedang berada di kantor. Maka cobalah untuk meluangkan waktuâ€"sebaiknya saat jam istirahatâ€"untuk mengasingkan diri seperti pergi ke musholla atau ke kafe sendirian.

8. Carilah Dukungan, bukan Kritikan

Tidak semua orang mau mendengarkan keluh kesah Anda. Alih-alih berempati, yang ada mereka malah mengkritik atau bahkan menyalahkan diri Anda atas apa yang sedang dialami.

Jika sudah begitu, maka sebaiknya tidak perlu melanjutkan keluh kesah Anda. Mengeluh kepada seseorang adalah untuk mencari dukungan, bukan kritikan. Pasalnya, hal ini justru akan membuat Anda terus-menerus mengeluh.

9. Segera Bertindak

Sebagaimana telah disebutkan di atas, mengeluh adalah hal yang wajar. Akan tetapi, mengeluh berlarut-larut juga tidak baik sehingga yang harus Anda lakukan adalah bertindak. Bertindak di sini adalah segera ‘bangkit’ dan cari cara untuk mengatasi hal-hal yang mengganggu Anda tersebut.

Diam dan terus larut dalam perasaan yang tidak baik hanya akan membuat Anda semakin terpuruk.

10. Menulis Jurnal

Menulis jurnal pribadi ternyata juga sedikit banyak bisa membantu Anda untuk keluar dari kebiasaan mengeluh ini, lho. Ya, apapun masalah yang sedang Anda hadapi, Anda bisa menuliskannya di dalam jurnal.

Dengan menuliskan apa saja hal-hal yang mengganggu Anda di hari ini, Anda akan lebih mudah untuk mencari solusi terbaik. Menyambung dari poin sebelumnya, segera bertindak!

11. Latihan Yoga

Latihan yoga menjadi cara berhenti mengeluh yang juga patut untuk Anda coba. Yoga membantu Anda untuk mendapatkan ketenangan hati dan pikiran sehingga Anda jadi bisa berpikir positif terhadap segala sesuatu.

Baca Juga: 5 Tahap Kesedihan saat Mengalami Kejadian Buruk, Apa Saja?

Mengeluh Wajar, Asal Jangan Berlebihan

Mengeluh sejatinya merupakan suatu hal yang wajar. Ya, tak bisa dipungkiri setiap orang pasti pernah mengalami berbagai macam problematika di dalam kehidupannya. Mulai dari masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya, tak pelak membuat kita merasa lelah dan akhirnya mengeluh. Mengeluarkan keluh kesahâ€"sadar maupun tidak sadarâ€"biasanya disebabkan oleh:

  • Melepaskan beban pikiran
  • Mencari simpati dari orang lain
  • Meminta solusi dari orang lain

Akan tetapi, seperti yang sudah disinggung berkali-kali, jangan sampai hal ini terlalu berlebihan dan menjadi kebiasaan karena dampaknya tentu tidak baik bagi kesehatan mental Anda. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi psikologi jika dirasa tidak mampu untuk menyelesaikannya seorang diri. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. 2018. How to Stop Complaining: 7 Secrets to Being Happier. https://health.clevelandclinic.org/how-to-stop-complaining-7-secrets-to-being-happier/ (Diakses pada 15 Juli 2020)
  2. Hall, J. 6 Steps to Help You Stop Complaining. https://www.inc.com/john-hall/how-you-can-train-yourself-to-stop-complaining-in-under-a-month.html (Diakses pada 15 Juli 2020)
  3. Scott, E. 2019. How and Why You Should Stop Complaining. https://www.verywellmind.com/how-and-why-stop-complaining-3144882 (Diakses pada 15 Juli 2020)
  4. Taibbi L, R. 2018. How to Stop Complaining. https://www.psychologytoday.com/us/blog/fixing-families/201811/how-stop-complaining (Diakses pada 15 Juli 2020)

Itulah tadi informasi dari daftar poker mengenai 11 Cara Berhenti Mengeluh agar Hidup Lebih Bahagia oleh - layananhomecare.site dan sekianlah artikel dari kami layananhomecare.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.